Ogoh-Ogoh “Amertaning Sidhi Surya Chandra” karya ST Satya Dharma, Sanur Kaja yang tampil perdana di Kasanga Festival ke-4 tahun 2026. (BP/suk)

DENPASAR, BALIPOST.com – Pemerintah Kota Denpasar kembali menggelar Kasanga Festival (Kasanga Fest) ke-4 pada 6 hingga 8 Maret 2026 di kawasan Catur Muka dan Lapangan Puputan Badung.

Dalam ajang tahunan menjelang Hari Raya Nyepi tersebut, lomba ogoh-ogoh tahun ini mengusung tema “Jala Sidhi Shuvita – Memuliakan Air untuk Kesejahteraan.”

Salah satu peserta yang turut meramaikan festival adalah ST Satya Dharma, Sanur Kaja dengan ogoh-ogoh berjudul “Amertaning Sidhi Surya Chandra.” Karya tersebut mengangkat makna filosofis tentang air yang tidak hanya sebagai sumber kehidupan, tetapi juga sebagai penjaga, penyembuh, sekaligus kekuatan yang menuntun manusia menuju keselarasan.

Namun, apabila tidak dijaga dengan welas asih dan kebijaksanaan, air juga dapat berubah menjadi bencana yang menguji kehidupan masyarakat.

Baca juga:  Dari SE Pembatasan Kegiatan di 3 Wilayah Saat KTT G20 hingga Stop Solusi Palsu

Ketua panitia ogoh-ogoh ST Satya Dharma, Gus De, menjelaskan bahwa konsep karya ini terinspirasi dari kisah sejarah Desa Sanur Kaja. Pada abad ke-17, wilayah Sanur pernah dilanda wabah besar yang dikenal dengan Gering Agung, yang dipercaya disebabkan oleh kekuatan Bhuta Gering beserta pengikutnya.

Dalam situasi tersebut, Ida Bhatara Lelangit dari Griya Jero Gede Sanur turun tangan untuk menanggulangi wabah secara niskala. Beliau didampingi oleh prasanaknya, Telek, serta para pengikut yang membawa senjata Biring Agung dan Biring Alit untuk menghadapi kekuatan Bhuta Gering.

Berlandaskan ajaran Siwa-Buddha, Ida Bhatara Lelangit kemudian memohon kekuatan spiritual di sebuah petirtaan atau kolam suci yang menjadi sumber kesucian. Dengan menggenggam pusaka Hyang Poleng, beliau memohon kekuatan suci yang kemudian digunakan untuk melakukan prosesi penyomian atau peleburan guna menundukkan Bhuta Gering dan para pengikutnya.

Baca juga:  Gulat Tidak Dipertandingkan di Porprov Bali 2022

Melalui perpaduan kekuatan Dharma serta kesucian air petirtaan, Bhuta Gering akhirnya dapat dikalahkan. Air suci yang telah dimurnikan tersebut kemudian dikenal sebagai “Tirta Amerta Sidhi Surya Chandra”, yang diyakini mampu mengakhiri wabah dan memulihkan ketenteraman masyarakat Sanur pada masa itu.

Gus De menambahkan, proses pembuatan ogoh-ogoh ini dimulai sejak November hingga Desember 2025. Tahap awal meliputi perumusan judul dan konsep, yang dilakukan dengan penuh pertimbangan, termasuk melakukan nangkil ke Griya Gede Sanur untuk memohon tuntunan spiritual.

Baca juga:  Kejati Bali Bidik Dugaan Penyimpangan Pencairan Kredit Investasi di BPD Bali

Terkait biaya pembuatan ogoh-ogoh, Gus De mengatakan bahwa nominalnya tidak dihitung secara rinci. Hal ini karena para pemuda ST Satya Dharma sepakat untuk mengerahkan kemampuan secara maksimal demi menghasilkan karya terbaik, terlebih ini merupakan partisipasi pertama mereka dalam Kasanga Festival.

Pembuatan ogoh-ogoh tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari kelian adat, kelian dinas, hingga Desa Dinas dan Desa Adat Sanur Kaja.

“Ini adalah pertama kalinya kami dari ST Satya Dharma Sanur Kaja mengirim ogoh-ogoh ke Kota Denpasar dalam Kasanga Festival ke-4 tahun 2026. Astungkara kami bisa lolos hingga 16 besar,” ujar Gus De. (Suka Adnyana/balipost)

BAGIKAN