Ogoh-ogoh “Raksasa Kala Nila Tirta" karya ST Eka Dharma. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh sekaa teruna (ST) Eka Dharma, Banjar Saih, Desa Peguyangan Kaja, menjadi salah satu nominasi 16 besar ogoh-ogoh di Denpasar pada Kasanga Festival (Kasanga Fest) 2026. Mengambil tema “Raksasa Kala Nila Tirta” pengerjaan ogoh-ogoh dari Banjar Saih, Desa Peguyangan Kaja ini memaksimalkan bahan ramah lingkungan.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang anggota ST Eka Dharma, I Made Dodi Jaya Permana saat ditemui, Jumat (6/3). Dia mengatakan, ogoh-ogoh karya ST Eka Dharma dikerjakan sejak November 2025.

Adapun bahan yang digunakan yakni besi, bambu, kardus, serta daun pisang kering dan kulit jagung kering untuk sayap. Ogoh-ogoh ini juga menggunakan mesin pada sayap, cakra, dan poros. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp80 juta.

Baca juga:  Denpasar Kembali Gelar Kesanga Fest

Ogoh-ogoh ST Eka Dharma menceritakan, pada masa Kali Yuga, ketika air tidak lagi dimuliakan sebagai Tirta Amerta, manusia mulai memperlakukan sungai sebagai alat perebutan wilayah, kekuasaan, dan kepentingan duniawi. Sungai yang seharusnya menjadi pamisah suci, pembatas yang menjaga harmoni, perlahan berubah menjadi sumber konflik.

Melihat kekacauan itu, muncullah Raksasa Kala Nila Tīrta, manifestasi dari hukum kosmis Rta. Ia bukan sekadar raksasa jahat, melainkan hakim alam semesta yang menimbang kesucian niat manusia terhadap air.

Baca juga:  Buka Sampai 10 Malam, Pemilik Angkringan Diproses Hukum

Empat tangannya melambangkan empat kekuatan kosmis: Dharma (aturan dan kebenaran), Karma (akibat dari perbuatan), Kala (waktu yang menghakimi segala hal), dan Bhuta (kekuatan unsur alam). Cakra di tangannya berputar sebagai simbol hukum yang tak dapat dihindari, siap menghantam siapa pun yang menodai air demi keserakahan.

Sementara itu, kendi atau kundika yang ia pegang menjadi lambang kemurnian dan sumber kehidupan. Sayap yang terbentang di punggungnya melambangkan pengawasan terhadap tiga dunia yaitu Bhur, Bwah, dan Swah.

Di hadapan kekuatan kosmis itu, berdirilah dua manusia bernama I Wira Tirta dan I Dana Segara. Mereka saling berhadapan sambil menggenggam bambu runcing, bukan untuk menyerang satu sama lain, melainkan untuk menjaga batas wilayah sungai sebagai warisan leluhur. Mereka melambangkan kesadaran manusia yang masih bertahan, mempertahankan air sebagai pemersatu, bukan pemecah.

Baca juga:  Lesu, Penjualan Ogoh-Ogoh Mini

Pertarungan yang terjadi bukanlah pertarungan fisik, melainkan pertarungan batin. Pertanyaan besar pun muncul, apakah air akan tetap menjadi Jala Sidhi Sweta, air suci penyeimbang jagat, atau justru jatuh menjadi alat perebutan kekuasaan?

Pada akhirnya, raksasa itu tidak dihancurkan. Ia ditenangkan, karena kesadaran manusia kembali pada jalan Dharma. Air pun kembali dimuliakan sebagaimana mestinya yaitu sebagai saksi, hakim, dan pemurni kehidupan. (Widiastuti/bisnisbali)

BAGIKAN