Ogoh-ogoh bertajuk "Buta Sigug" hasil karya pemuda ST. Giri Manila Sari, Banjar Susut Payangan. (BP/istimewa)

GIANYAR, BALIPOST.com – Kreativitas pemuda Desa Buahan, Payangan, Kabupaten Gianyar, kembali memukau publik. Ogoh-ogoh bertajuk “Buta Sigug” hasil karya pemuda ST. Giri Manila Sari, Banjar Susut yang sebelumnya meraih juara 1 tingkat kecamatan Payangan, selanjutnya kembali meraih juara 3 tingkat Kabupaten Gianyar yang penilaian berlangsung di Alun-Alun Kota Gianyar.

Karya ogoh-ogoh ini tidak hanya menonjolkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pengendalian diri dan penghormatan terhadap alam.

Putu Tegar Mahesa Putra, arsitek utama di balik Buta Sigug, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar tahun ini adalah mengejar tingkat kerumitan anatomi dan detail pengecatan. Berbeda dengan gaya konvensional, Buta Sigug menampilkan sudut-sudut anatomi tubuh yang sulit dijangkau, memberikan kesan dinamis dan hidup pada sosok tersebut.

Baca juga:  Maguru Satua Raih Juara I Lomba Ogoh-Ogoh Badung Caka Fest 2026

“Kesulitannya ada pada pembentukan anatomi di bagian yang sulit dijangkau serta tahap pengecatan. Kami ingin tekstur batunya terlihat seperti batu asli, begitu juga dengan detail warna kulitnya agar tampak nyata,” ujar Tegar.

Proses pengerjaan yang memakan waktu sekitar dua setengah bulan ini merupakan hasil kerja kolektif para yowana ST. Giri Manila Sari. Dengan dukungan dana sekitar Rp25 juta yang bersumber dari kas STT dan bantuan Desa, mahakarya ini berhasil diwujudkan sebagai simbol pelestarian budaya. Di balik kemegahan fisiknya, Buta Sigug menyimpan sinopsis yang sarat akan makna spiritual. Nama Buta Sigug diambil dari kata “Buta” yang berarti kebutaan fisik maupun batin, serta “Sigug” yang melambangkan sifat menyimpang dan keras kepala.

Baca juga:  Denpasar Umumkan 12 Nominasi Terbaik Ogoh-Ogoh 2023

Sosok ini digambarkan duduk dengan angkuh di atas batu suci yang dililit kain poleng. Kaki yang ditumpur menjadi simbol ketidaksopanan dan ego tinggi manusia yang berani mengabaikan kesucian alam demi kepentingan pribadi.  Detail simbolis lainnya meliputi telinga besar dan panjang melambangkan kegemaran mendengarkan hal negatif yang menjauhkan pikiran dari kebaikan.

Rambut dipusung dengan aksara bali menggambarkan pikiran yang kusut, sosok yang tahu ajaran agama namun enggan melaksanakannya karena merasa paling benar. Kehadiran Burung Gagak, bertindak sebagai penasihat yang mencoba menegur Buta Sigug agar kembali ke jalan yang benar, meski sering kali diabaikan dengan ekspresi meledek (mata ditarik ke bawah).

Baca juga:  Ikuti Regulasi Pemerintah, Perusahaan Multinasional Naikkan TKDN di Produknya

Melalui karya ini, Tegar dan pemuda Banjar Susut ingin mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menundukkan ego dan mengendalikan Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia). “Ketika manusia mampu mengendalikan diri dan menghormati alam, maka terciptalah keharmonisan yang mengantarkan kita pada Bhuana Purnaning Jiwa, yaitu kesempurnaan jiwa melalui keseimbangan dengan semesta,” tutup Tegar.(Wirnaya/balipost)

 

BAGIKAN