
DENPASAR, BALIPOST.com – ST Semadhi Dharma Putra, Banjar Pohgading, turut meramaikan Kasanga Festival ke-4 tahun 2026 dengan menghadirkan ogoh-ogoh bertajuk “Tirta Mumbul.” Karya ini mengangkat makna filosofis tentang air sebagai unsur vital yang menopang kehidupan manusia dan alam semesta.
Untuk biaya produksi, pembuatan ogoh-ogoh ini diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp50 juta hingga Rp60 juta, yang merupakan hasil gotong royong para pemuda ST Semadhi Dharma Putra.
Dalam konsepnya, ogoh-ogoh ini terinspirasi dari pandangan masyarakat Bali Kuno yang menjadikan pengelolaan sumber air sebagai indikator utama kesejahteraan suatu wilayah. Pada masa tersebut, sistem permukiman dikenal dengan istilah banua, yang setara dengan desa pada masa kini. Keberadaan banua sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan sumber air sebagai penopang kehidupan masyarakat.
Konsep banua sendiri berkaitan dengan dua karakter air yang saling melengkapi, yakni danuh dan danawa. Danuh melambangkan sifat air yang lembut dan membawa kesejahteraan, sementara danawa menggambarkan sifat air yang kuat dan keras. Keseimbangan kedua karakter ini dipercaya menjadi syarat terciptanya keharmonisan dan kesejahteraan.
Dalam tradisi pengelolaan air, konsep ini juga dikenal sebagai segara gni, yang bermakna bahwa di dalam air terdapat unsur api dan di dalam api terdapat unsur air. Keseimbangan keduanya berlangsung sesuai dengan perjalanan waktu. Air kemudian dipersonifikasikan sebagai Waruna, yang berasal dari kata yang bermakna menjelajah atau membentang, sehingga air diyakini mampu hadir di berbagai tempat.
Berdasarkan kemunculannya, air dalam tradisi Bali dibedakan menjadi Tirta dan Toya. Salah satu fenomena yang dikenal masyarakat adalah air yang muncul dari batang kayu atau tunggul pohon, yang tidak berkurang maupun berlebih. Air tersebut dipercaya sebagai sumber amerta sekaligus sarana penglukatan atau penyucian. Fenomena ini dikenal dengan sebutan “Tirta Mumbul,” yang berarti air yang muncul atau memancar dari alam.
Ketua S.T Semadhi Dharma Putra, Putu Aditya Pratama (Adit), menjelaskan bahwa ogoh-ogoh “Tirta Mumbul” merupakan refleksi rasa syukur kepada alam, khususnya air sebagai sumber kehidupan.
Namun, menurutnya, saat ini terjadi pergeseran cara pandang manusia terhadap air yang semakin diposisikan sebagai komoditas ekonomi. Banyak aliran air dipersempit, ruang alam dikorbankan demi pembangunan, hingga mata air dieksploitasi tanpa mempertimbangkan kesucian dan kelestariannya.
“Karya ini menampilkan sosok manusia yang menerima tirta dari seorang pemangku sebagai penuntun upacara keagamaan. Tirta dimaknai sebagai penutup sembahyang yang berfungsi menyucikan jiwa dan raga sebelum manusia kembali menjalani kehidupan duniawi,” ujar Adit saat ditemui di kawasan Catur Muka Denpasar, Jumat (6/3).
Kehadiran sosok pemangku dalam karya tersebut melambangkan bahwa manusia tidak dapat berjalan sendiri dalam memperbaiki diri. Manusia membutuhkan bimbingan, pembelajaran, dan kebijaksanaan dari mereka yang memiliki pengalaman spiritual.
Sementara itu, elemen tunggul kayu kering yang memunculkan air dalam visual ogoh-ogoh menegaskan bahwa kekuatan air melampaui wujud fisiknya. Air mampu memberikan kehidupan bahkan di tempat yang tampak mati, sehingga menjadi simbol kesucian sekaligus kekuatan alam yang patut dimuliakan.
Proses pembuatan ogoh-ogoh “Tirta Mumbul” dimulai sejak 16 Desember 2025. Pengerjaan sempat mundur karena adanya kegiatan perayaan hari ulang tahun banjar, namun akhirnya dapat diselesaikan tepat waktu untuk mengikuti festival. (Suka Adnyana/balipost)










