Sarwa Prani Hitangkarah, ogoh-ogoh karya ST Sukarela, Banjar Kepisah, Pedungan. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Garapan ogoh-ogoh Sekaa Teruna (ST) Sukarela, Banjar Kepisah, Pedungan, mengambil tema “Sarwa Prani Hitangkarah”. Dalam pengerjaannya, para pemuda setempat menggunakan bahan ramah lingkungan. Bahan yang digunakan berupa daun pisang yang sudah tua atau dalam bahasa Bali disebut kraras hingga prasok, jenis daun yang bisa digunakan untuk rambut palsu.

Ketua ST Sukarela, I Gede Widhiana saat ditemui, Jumat (6/3) mengatakan, pengerjaan ogoh-ogoh dilakukan sejak Desember atau kurang lebih selama 3 bulan. Bahan yang digunakan berupa serbuk kayu, kraras, ental, benang woll, kertas roti, tali goni hingga prasok. Selain itu, kerangka dasar ogoh-ogoh ST Sukarela juga menggunakan bambu dan besi.

Baca juga:  Disbud Badung akan Diskualifikasi Ogoh-ogoh Bernuansa Politik

Ogoh-ogoh yang mengambil karakter Dewa Wisnu ini juga menggunakan mesin khususnya pada sayap dan air. “Untuk biaya yang kami keluarkan dalam penggarapannya mencapai sekitar Rp60 juta,” ungkapnya.

Ogoh-ogoh “Sarwa Prani Hitangkarah” mengambil kisah Dewa Wisnu yang menerobos bumi dalam pencarian pangkal Lingga dan kemudian bercinta dengan Dewi Pertiwi hingga melahirkan seorang putra bernama Boma. Kisah ini diyakini penting dalam sistem penghayatan dan pengetahuan lokal tentang keseimbangan ekosistem alam.

Karya ini mencoba menyingkap basis ekologi dengan kembali membaca ulang mitos sebagai world view dari epistemik kebudayaan Bali, yaitu kisah kelahiran Boma yang tersadur dalam cerita klasik Linggodbawa. Penyingkapan dalam karya ini menekankan dimensi metafora dalam perwujudannya.

Baca juga:  Keasyikan Nonton Ogoh-ogoh, Tiga WNA Diamankan Pecalang di Bongkasa

Karya ini tidak berorientasi alur-naratif, namun mencoba menyingkap bagaimana air dan bumi menciptakan kehidupan melalui gambaran mitos dengan mendudukkan karakter Dewa Wisnu, Boma, dan Dewi Pertiwi dalam keutuhan komposisi yang saling mengait. Penafsiran atas ketiga karakter tersebut saling berkesinambungan satu dengan lainnya.
Dewa Wisnu, sang pemelihara alam semesta termanifestasi sebagai tirta (Air) yang turun dan meresap ke dalam rahim Dewi Pertiwi (tanah) sebagai personifikasi bumi itu sendiri.

Baca juga:  Denpasar Larang Gunakan Ini Saat Arak Ogoh-ogoh

Pertemuan antara elemen air dan elemen tanah melahirkan sarwa tumuwuh (tumbuhan) yang digambarkan sebagai sosok perkasa bernama Boma. Dalam bahasa Sanskerta, Boma atau Bhaumá berarti sesuatu yang tumbuh dan lahir dari bumi. Dengan kata lain, apa yang dikenal dengan pepohonan yang besar nan rindang yang menyerap dan menjaga cadangan air di bumi, menyerap karbondioksida dan menyediakan oksigen bagi kebutuhan makhluk hidup. Inilah mengapa ketiga karakter yang ditampilkan adalah wujud kekuatan dari ekosistem alam dalam menjaga keseimbangan dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup (sarwa prani hitangkarah). (Widiastuti/bisnisbali)

 

BAGIKAN