Sekaa Teruna Kertha Yoga, Banjar Panti Gede, mengangkat kisah dari pewayangan Jawa dalam ogoh-ogoh garapan mereka. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Mengambil tema “Jalasadha” Sekaa Teruna (ST) Kertha Yoga, Banjar Panti Gede, Pemecutan Kaja, menghadirkan kisah pada pewayangan Jawa dalam garapan ogoh-ogoh jelang Nyepi 1948. Ogoh-ogoh inipun berhasil masuk nominasi 16 besar yang tampil di Kasanga Festival (Kasanga Fest) 2026.

Ketua ST Kertha Yoga, Made Anggi Raditya Satrya saat ditemui, Jumat (6/3) mengatakan, cerita pewayangan Jawa yang diambil yakni Sembrada Larung atau Subrada Larung yang menceritakan tentang kematian istri dari Arjuna yaitu Dewi Subadra. Bersama anggota sekaa teruna lainnya, ogoh-ogoh mulai digarap sejak akhir November 2025 atau sekitar 3 bulan. Biaya yang dikeluarkan mencapai Rp50 juta.

Seperti ogoh-ogoh lainnya yang disyaratkan menggunakan bahan ramah lingkungan, ST Kertha Yoga juga menggunakan bahan ramah lingkungan seperti bambu, kertas, cle, dan beberapa jenis lainnya. “Hampir semua bahan yang digunakan adalah ramah lingkungan,” ujarnya.

Baca juga:  Belasan Pejabat Eselon II Pemkab Tabanan Dimutasi

Mesin juga digunakan dalam ogoh-ogoh ini khususnya pada kepala dan poros bawah. Diakui Anggi, pihaknya berusaha maksimal dalam penggarapan ogoh-ogoh tahun ini.

Terkait tema ogoh-ogoh ST Kertha Yoga tahun ini, Jalasadha berasal dari kata jala yang bermakna air, sumber kehidupan dan medium penyambung antara raga, alam dan kesadaran. Sedangkan sadha berakar dari usadha yang dimaknai sebagai obat, penawar, dan daya permurni kehidupan.

Karya ini diambil dari kisah cerita pewayangan jawa Sembrada Larung atau Subadra Larung yang menceritakan tentang kematian istri dari Arjuna yaitu Dewi Subadra. Untuk mencari tahu penyebab kematian Dewi Subadra, para Pandawa meminta petunjuk kepada Kresna selaku penasihat dari para Pandawa.

Baca juga:  Pawai Ogoh-ogoh Pakai "Sound System" Akan Dikenakan Sanksi

Kresna mengintruksikan untuk menghanyutkan jenazah Dewi Subadra di Sungai Gangga dan memerintahkan Gatotkaca untuk mengawasi dari langit serta berpesan siapapun yang mendekati jenazah Dewi Subadra maka dialah yang membunuh Dewi Subadra.

Sementara di Saptapratala, Antareja berpamitan kepada ibunya, Dewi Nagagini dan kakeknya, Dewa Anantaboga untuk bertemu dengan ayahnya, Bima. Dalam perjalanannya tersebut, Antareja melintasi aliran sungai Gangga dan melihat sebuah perahu hanyut yang berisikan jenazah Dewi Subadra. Melalui kekuatan usadha warisan Dewa Anantaboga, Antareja menyiratkan Tirta Perwitasari sebagai medium penyembuhan dan menghidupkan kembali Dewi Subadra.

Namun dari angkasa, Gatotkaca salah menafsirkan peristiwa tersebut sebagai tindakan kejahatan. Kesalahpahaman antara dua ksatria bersaudara tersebut menyebabkan terjadinya pertarungan antara akasajala (di angkasa dan air) tak terelakan, sebuah benturan kosmis antara langit dan air, antara amarah dan welas asih, antara prasangka dan kebijaksanaan. Melihat hal tersebut, kehadiran Sanghyang Narada membuka kesadaran dan mengungkapkan kebenaran bahwa mereka bersaudara dan sama-sama putra Bima sehingga keseimbangan kembali.

Baca juga:  Desa Adat Tanjung Bungkak Gelar Karya Mamungkah di Pura Dalem Tanjung Sari

Dalam karya Jalasadha, air tidak hanya menyembuhkan kehidupan (amerta), tetapi juga memurnikan relasi dan menyempurnakan ikatan persaudaraan. Air mengajarkan bahwa segala yang mengalir akan menemukan jalannya menuju kesatuan. Layaknya air Sungai Gangga yang terus mengalir memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya, kehidupan juga harus tetap mengalir untuk dapat memberikan maknanya. (Widiastuti/bisnisbali)

 

BAGIKAN