Ogoh-ogoh bertema “Banyu Pinaruh” karya Sekaa Teruna Cantika, Banjar Sedana Mertasari, Kelurahan Ubung. (BP/wid)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ogoh-ogoh Sekaa Teruna (ST) Cantika, Banjar Sedana Mertasari, Kelurahan Ubung, Denpasar Utara, meraih nilai tertinggi nominasi 16 besar pada Kesanga Festival (Kasanga Fest) 2026. Tema yang diambil “Banyu Pinaruh” dengan tokoh utama Dewi Saraswati.

Konseptor sekaligus arsitek ogoh-ogoh, I Nyoman Mariadi saat ditemui, Jumat (6/3), mengatakan, pembuatan ogoh-ogoh tahun ini menyesuaikan regulasi yang menekankan penggunaan material ramah lingkungan. Karena itu, sebagian besar bahan yang digunakan berasal dari material alami.

“Bahan utama yang kami gunakan adalah bambu. Selain itu ada hydropaper dan beberapa bahan lain untuk memberikan tekstur pada karya,” ujar Mariadi.

Dalam garapan ogoh-ogoh Banyu Pinaruh ini, ST Cantika menghabiskan anggaran mencapai Rp200 juta. Anggaran tersebut digunakan untuk pengadaan bahan, pembuatan struktur hingga penyelesaian detail artistik karya dengan lama penggarapan 2 bulan.

Mariadi mengatakan, pemilihan konsep tahun ini juga berkaitan dengan perjalanan karya ST Cantika dalam beberapa tahun terakhir yang kerap mengangkat tema tokoh spiritual seperti Parwati, Laksmi, dan Saraswati. Mengingat karya-karya tersebut mendapat perhatian dari penggemar ogoh-ogoh di luar daerah, pihaknya kembali mencoba menghadirkan konsep berbeda namun tetap memiliki nilai filosofis kuat.

“Beberapa tahun terakhir karya kami cukup diikuti oleh para penggemar di luar. Karena itu kami ingin kembali menghadirkan karya yang bisa menarik perhatian mereka,” katanya.

Baca juga:  Pendaftaran Bantuan Ogoh-ogoh Pemkab Klungkung Diperpanjang

Dengan persiapan konsep, bahan, dan dukungan anggaran yang cukup besar, tim ST Cantika optimistis ogoh-ogoh bertema Banyu Pinaruh dapat tampil maksimal saat dipentaskan pada Kasanga Festival 2026 di Denpasar.

Adapun filosofi ogoh-ogoh Banyu Pinaruh sebagai berikut. Istilah Banyu Pinaruh berasal dari dua kata, yaitu banyu dan pinaruh, yang secara linguistik berkaitan dengan konsep Banyu Pinaweruh. Kata banyu dalam bahasa Jawa Kuna berarti air.

Sementara itu, pinaweruh berasal dari dua unsur kata, yaitu pinaŋ yang berarti memohon atau mengundang, dan wruh yang berarti pengetahuan. Dengan demikian, Banyu Pinaweruh dapat dimaknai sebagai air yang memohonkan atau mendatangkan ilmu pengetahuan.

Dalam lontar Lontar Sundarigama, Banyu Pinaruh merupakan rangkaian hari raya Saraswati yang dilaksanakan pada keesokan harinya, yaitu pada Redite Paing Sinta. Pada hari tersebut, umat Hindu melakukan penyucian diri dengan sarana air sebagai simbol pembersihan lahir dan batin.

Dalam kitab Yajur Veda disebutkan bahwa air merupakan elemen alam yang sangat penting sebagai sumber kehidupan manusia. Selain itu, dalam Manawa Dharmasastra dijelaskan bahwa air juga berfungsi sebagai sarana untuk menyucikan tubuh.

Baca juga:  Pangerupukan di Buleleng Dimeriahkan Seribuan Ogoh-ogoh

Air yang telah diformulasikan oleh seorang pendeta atau Sulinggih melalui rangkaian ritual seperti japa, mantra, puja, mudra, dan genta disebut sebagai tirtha atau air suci. Tirtha ini digunakan sebagai sarana pembersihan dan penyucian diri yang dikenal dengan istilah tirtha pelukatan. Dalam pelaksanaannya, pangelukatan biasanya menggunakan sarana bunga tunjung atau teratai. Visualisasi proses ini digambarkan melalui sosok seorang wanita yang sedang melaksanakan pelukatan.

Pangelukatan bertujuan untuk menetralisir dan menyomya dasa mala yang ada dalam diri manusia. Konsep dasa mala bersumber dari Slokantara dan terdiri atas sepuluh sifat buruk. Kesepuluh sifat ini divisualisasikan melalui sepuluh tokoh raksasa yang memiliki gestur dan mimik berbeda untuk menggambarkan masing-masing sifat buruk tersebut. Apabila dasa mala berhasil di-somya dan dinetralisir, maka akan muncul sifat guna sattwam dalam diri manusia.

Guna sattwam merupakan sifat yang mencerminkan ketenangan, kesucian, kebijaksanaan, kecerdasan, serta berbagai sifat luhur lainnya. Sifat ini disimbolkan dengan angsa putih yang identik sebagai wahana dari Dewi Saraswati.

Ketika sifat guna sattwam telah muncul, ilmu pengetahuan diyakini dapat turun dan memberikan manfaat apabila disertai dengan kesucian lahir dan batin. Ilmu pengetahuan yang diturunkan oleh Dewi Saraswati divisualisasikan dalam bentuk antariksa sebagai gambaran luasnya pengetahuan secara umum. Antariksa juga melambangkan salah satu bidang ilmu tertua yang dikenal manusia, di samping konsep dasa aksara dalam tradisi Hindu.

Baca juga:  Pelaku Dugaan Pemerasan Proyek Jalan di Tangkap

Akar berwarna emas melambangkan sumber ilmu pengetahuan yang suci. Kedua ornamen ini menjadi latar belakang yang memperkuat visualisasi Dewi Saraswati sebagai simbol ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan yang diidentikkan dengan perwujudan Dewi Saraswati juga dimanifestasikan dalam bentuk sastra yang bersemayam dalam mahligai lontar. Hal ini berkaitan dengan kemunculan aksara-aksara yang ada di dunia. Aksara-aksara tersebut kemudian diringkas menjadi sepuluh aksara utama yang dikenal sebagai dasa aksara. Kesepuluh aksara ini berada di delapan penjuru arah mata angin serta dua posisi di tengah sebagai pusat keseimbangan.

Dalam ajaran tersebut juga disebutkan bahwa Sang Hyang Aji Saraswati bergelar Ida Sang Mambek Toya tur Wagmi, yang berarti beliau yang mengalirkan air suci pengetahuan melalui kata-kata yang bijaksana dan indah. Gelar ini sejalan dengan makna ritus Banyu Pinaweruh, yaitu air sebagai sarana turunnya pengetahuan suci. (Widiastuti/bisnisbali)

 

BAGIKAN