
DENPASAR, BALIPOST.com – Sekaa Teruna Mekar Sari, Banjar Kesambi, Kesiman Kertalangu, membuat ogoh-ogoh dengan tema “Cocor Batur”. Ogoh-ogoh inipun masuk dalam nominasi 16 besar yang tampil di Kasanga Festifval (Kasanga Fest) 2026. Ogoh-ogoh ini mengeluarkan dana yang cukup minim dibandingkan lainnya yakni Rp35 juta.
Hal tersebut diakui oleh arsitek ST Mekar Sari, Komang Sudiartha saat diwawancarai, Jumat (6/3). Dia mengatakan, penggarapan ogoh-ogoh Cocor Batur ini hanya memakan waktu 1 bulan. Bahan yang digunakan yakni besi, bambu, hingga kertas bekas.
Tema Cocor Batur yang diambil kata Cocor berarti ujung atau hulu dan bersinonim dengan mengucur atau terjun. Batur mengandung makna dualitas, batur (unsur padat) dan Desa Batur yang menjadi Kawasan suci dengan Danau Batur sebagai sumber air Utama Bali.
Secara filosofis, Cocor Batur memiliki dua makna yaitu pertama, air yang berhulu di Danau Batur yang kemudian mengalir menjadi sungai, termasuk Tukad Sungai Ayung. Kedua, air ini menjadi nadi kehidupan masyarakat dari hulu hingga hilir. Air yang terjun menimpa batu, simbol pertemuan unsur cair (air) dan padat (batu) yang melambangkan proses penyucian, keteguhan dan keseimbangan alam.
Dalam perspektif sejarah yang tertuang dalam Babad Mengwi, perjalanan Ki Balian Batur ke wilayah Badung khususnya Kesiman dan Kusambi, bukan hanya peristiwa politik antara Gelgel dan Mengwi, namun juga perjalanan spiritual yang mengikuti jejak sumber-sumber air suci. Air menjadi saksi, media penyucian, sekaligus pengikat kekuatan.
Kisah keterlibatan Raja Kesiman yang terhubung dengan Bintang Danu mempertegas hubungan kosmis antara air (danu), kekuasaan, dan spiritual. Jejak sejarah wilayah seperti Celedunginyah yang dikenal oleh masyarakat Kusambi yang merupakan kesaktian Ki Balian Batur yang disebut Celedumangunyah yang berarti kalajengking yang siap memangsa serta Kawasan Kuwum di Kusambi menunjukkan bahwa wilayah tersebut menyimpan memori sakral yang erat dengan air dan batu.
Mengangkat Cocor Batur dalam seni ogoh-ogoh bukan sekedar menghidupkan sejarah, tetapi menjadi sebuah cerminan memuliakan air. Dalam ajaran Hindu di Bali, air adalah media panglukatan (penyucian lahir dan batin). Air adalah simbol amerta (kehidupan), Air hulu ke hilir mencerminkan ajaran keseimbangan dan kesinambungan dharma.
Dengan demikian, visualisasi Cocor Batur menjadi pengingat bahwa air bukan sekadar unsur alam, tetapi sumber kesucian dan kehidupan yang wajib dijaga. (Widiastuti/bisnisbali)










