Romi Sudhita. (BP/Istimewa)

Oleh Romi Sudhita

Anak-anak sekolah yang berusia 6-18 tahun (SD, SMP, SMA/SMK) setelah belajar di rumah saja, kini sudah banyak yang diterpa angin tak sedap. Lebih parah lagi, banyak yang stres. Sebagian menginginkan segera ke sekolah agar dapat ketemu teman-temannya, maupun para guru mereka, pada tatanan pembelajaran konvensional. Sebagian kecil saja yang masih ingin bertahan di rumah dengan mengikuti pembelajaran daring (baca, dalam jaringan) atau pembelajaran secara online.

Terhadap pernyataan ini penulis harap tak ada yang bertanya “apakah hal itu merupakan hasil penelitian atau bukan.” Jujur, penulis akui apa yang dikemukakan ini hanya berdasarkan kajian ego internal berdasar pemikiran logis setelah membaca dan mendengar pemberitaan di media massa cetak maupun media elektronik.

Meskipun Covid-19 melanda dunia, termasuk kita di Bali, namun jika anak-anak tidak pada sekolah, jelas tak akan mungkin terjadi dilema mengenai kaitan antara anak dengan sekolah. Justru dengan adanya sekolah itulah suasana menjadi runyam begini. Anak-anak seakan ditarik sana ditarik sini dalam satu urusan yang bernama pembelajaran.

Baca juga:  Perempuan Bali Masa Kini

Mereka sepertinya berada di persimpanganjalan, mau ke kiri ragu mau ke kanan agak ragu. Bagi keluarga yang belum memiliki anak atau memiliki anak tapi belum bersekolah akan lebih tenang dibandingkan dengan keluarga memiliki dua tiga anak yang semuanya bersekolah. Kalau dipikir keinginan mereka (anak-anak) yang maunya kembali ke sekolah atau berdiam diri saja di rumah (belajar online) tentu sah-sah saja sebagai suatu pertanda bahwa anak itu memiliki pendirian dan memiliki prinsip.

Jika diurai keinginan mereka yang lebih menyukai pembelajaran konvensional, tidak boleh tidak pasti ada kaitan dengan hukungan sosial dan hubungan kekerabatan mereka antar sesama teman dan antar mereka dengan gurunya. Hubungan yang begitu intens akan melahirkan hasil (output) yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dalam sejarah pendidikan nasional, contoh soal seperti ini dapat kita temui bagaimana seorang Raden Ajeng (RA) Kartini sangat memerlukan teman yang tadinya diajak senda gurau di satu sekolah tiba-tiba berpisah dengan suatu alasan politik tertentu.

Baca juga:  Hujan dan Badai Bukan Halangan untuk Maju, Solidaritas dan Kerja Sama untuk Mengatasi Pandemi Covid-19

RA. Kartini ada di tanah air sementara itu mantan teman-teman sekelasnya sudah berada di Belanda. Saking rindu-kangennya di antara mereka, sampai-sampai sering berkorespondensi (surat menyurat), yang kemudian kumpulan surat-surat Kartini itu dibukukan oleh seorang penulis (maaf, lupa namanya) berkebangsaan Belanda dengan judul buku “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Kembali ke cerita anak yang kini berada dalam suasana pandemi Covid-19. Pada diri si anak seakan-akan mengalami kebingungan sarat dengan keinginan yang sifatnya kontradiktif. Mereka mengalami dilema, ibarat berada di persimpangan jalan. Bagi yang berkeinginan merajut pergaulan dengan warga sekolah (pembelajaran konvensional) khawatir jangan-jangan terpapar virus corona.

Jika tidak diikuti kemauan untuk belajar ke sekolah, lama-lama bisa mengalami goncangan jiwa yang teramat sangat lantaran terus menerus berada di rumah (stay at home). Sebaliknya, jika beketetapan hati untuk belajar “daring” dengan tinggal di rumah saja, khawatir akan “kehilangan” teman yang sudah seperti saudara sendiri. Yang disebutkan di sini baru dilihat dari kaca mata siswa atau si anak.

Baca juga:  NJOP sebagai Dasar Pengenaan Pajak

Lalu bagaimana dengan gurunya? Kegalauan sang anak penulis pikir sama saja dengan yang dirasakan para guru. Guru-guru pada kangen dengan siswa, dan sebaliknya jika berlama-lama tinggal di rumah yang menurut istilah Presiden Jokowi “bekerja dari rumah” (work from home) bosan juga.

Mengikuti pemberitaan di koran, pernah diagendakan bahwa semester baru akan dimulai tanggal 4 Januari 2021, tapi ini bergeser ke bulan Juli. Yang pasti sekolah yang masih bingung menyikapi keadaan pandemi Covid-19 tampaknya masih wait and see alias menunggu waktu aturan pusat atau aturan yang lebih tinggi. Tugas kita sebagai orang tua adalah tetap mengawal masa depan anak di tengah pandemi. Informasi dan tuntunan tetaplah menjadi bagian penting bagi anak.

Penulis, pemerhati pendidikan

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.