Budidaya sidat yang dirintis Pangkalan TNI AL V di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Rabu (25/7). (BP/udi)

BANYUWANGI, BALIPOST.com – Budidaya sidat makin digandrungi di Banyuwangi. Apalagi, banyak diserap pasar ekspor ke Jepang.

Tingginya pasar sidat, membuat banyak kalangan membuka budidaya jenis ikan air tawar tersebut. Salah satunya, dari jajaran TNI AL. Sidat dikembangkan oleh Pangkalan TNI AL V Surabaya di kaki Gunung Ijen, tepatnya di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Program ini sengaja dilirik untuk mendukung program kemaritiman nasional. “Sidat salah satu potensi maritim yang potensial. Jenis ikan ini memiliki nilai ekonomis tinggi, bisa memberikan kesejahteraan bagi warga,” kata Komandan Pangakalan Utama TNI AL (Danlatamal) V Laksamana Pertama TNI Edwin disela tabur benih sidat perdana di Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Rabu (25/7).

Jenderal bintang satu ini menambahkan sidat juga memiliki kandungan gizi yang tinggi. Bahkan, lebih baik dibandingkan ikan Salmon. Sehingga, sangat baik bagi perkembangan otak anak.

Ditambahkan, budidaya sidat di kaki Gunung Ijen ini merupakan program rintisan pertama dari jajaran TNI AL. Pihaknya memilih Banyuwangi lantaran memiliki potensi alam yang mendukung. “ Banyuwangi punya sumber mata air yang berlimpah, cocok untuk budidaya sidat,” jelasnya.
Menurutnya, sidat hanya mau hidup di air yang bersih. Banyuwangi, lanjut dia, memiliki potensi itu. Sebab, berada di kaki Gunung Ijen yang alami. Lalu, melakukan pembiakan di laut. Sehingga, laut dan aliran air tawar harus sama-sama dijaga agar ekosistem sidat bisa terjaga.

Baca juga:  Protes Poster Palu Arit, Lintas Ormas Turun ke Jalan

Kawasan budidaya sidat ini ditempatkan di areal persawahan. Dikemas menjadi obyek wisata alam. Deretan kolam ditata menarik. Airnya mengalir langsung dari lereng Gunung Ijen.

Diantara kolam, terdapat pemandian alam, sekaligus membendung aliran sungai. Di sekitar pemandian, penduduk bisa menikmati kuliner khas dusun setempat. Warung-warung menawarkan aneka menu tradisional. Harapannya, selain menjadi kawasan wisata, peternakan sidat ini menopang ekonomi warga desa setempat. (Budi Wiriyanto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.