
DENPASAR, BALIPOST.com – Perkembangan inflasi April 2026 di Bali menunjukkan disparitas antarwilayah. Kota Denpasar dan Singaraja mencatat inflasi tahunan tertinggi.
Sementara itu dua kabupaten yakni Badung dan Tabanan justru mengalami deflasi secara bulanan.
Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Senin (4/5) menjelaskan, secara umum tekanan harga masih terjadi, namun dengan pola yang berbeda di tiap daerah.
Di Denpasar, inflasi year-on-year (yoy) mencapai 2,51 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,08. Tekanan inflasi didorong oleh kenaikan harga hampir di seluruh kelompok pengeluaran, terutama makanan, minuman, dan tembakau yang naik 3,06 persen serta pendidikan yang melonjak 4,32 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga meningkat signifikan sebesar 4,77 persen. Secara bulanan, Denpasar justru masih mencatat inflasi 0,19 persen, tertinggi di antara wilayah lainnya.
Sementara itu, Singaraja mencatat inflasi tahunan yang sama tinggi, yakni 2,51 persen dengan IHK 111,67. Kenaikan harga terjadi merata di seluruh kelompok pengeluaran, dengan tekanan paling besar pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 5,39 persen serta kesehatan 3,05 persen. Namun, secara bulanan Singaraja mengalami deflasi 0,08 persen, menunjukkan mulai adanya penurunan tekanan harga dalam jangka pendek.
Berbeda dengan dua kota tersebut, kata Agus, Kabupaten Badung mencatat inflasi tahunan lebih rendah sebesar 1,41 persen dengan IHK 109,15. Meski demikian, sektor transportasi menjadi sorotan dengan lonjakan hingga 6,68 persen secara yoy tertinggi dibanding kelompok lainnya. Secara bulanan, Badung mengalami deflasi cukup dalam sebesar 0,17 persen, mengindikasikan adanya penurunan harga pada April.
Kondisi serupa terjadi di Kabupaten Tabanan yang mencatat inflasi tahunan 1,40 persen dengan IHK 114,00. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok pendidikan yang naik 3,73 persen serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,48 persen. Namun, secara bulanan Tabanan juga mengalami deflasi 0,17 persen.
BPS mencatat, secara year-to-date (ytd), inflasi tertinggi terjadi di Singaraja sebesar 1,15 persen, diikuti Denpasar 1,06 persen, Tabanan 0,73 persen, dan Badung 0,57 persen.
Perbedaan ini mencerminkan struktur ekonomi dan pola konsumsi yang beragam di masing-masing wilayah. Denpasar sebagai pusat perkotaan dan jasa, serta Singaraja sebagai wilayah dengan tekanan harga layanan yang tinggi, cenderung mencatat inflasi lebih besar. Sebaliknya, Badung dan Tabanan yang memiliki basis konsumsi dan distribusi berbeda menunjukkan tekanan harga yang lebih terkendali dalam jangka pendek.
BPS menilai, meski terjadi disparitas antarwilayah, secara umum inflasi Bali masih berada dalam rentang terkendali. (Suardika/balipost)










