Made Agus Adnyana, Fungsional Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali di Denpasar, Senin (2/2) menjelaskan deflasi di Bali awal tahun 2026 ini. (BP/dik)

DENPASAR, BALIPOST.com – Provinsi Bali mencatat deflasi pada awal tahun 2026. Pada Januari 2026, Bali mengalami deflasi 0,34 persen secara bulanan (month to month/m-t-m), sekaligus deflasi 0,34 persen secara year to date (y-to-d).

Meski demikian, secara tahunan (year on year/y-on-y) Bali masih mencatat inflasi sebesar 2,58 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,63, menunjukkan tekanan harga secara umum masih berada dalam kisaran terkendali.

Made Agus Adnyana, Fungsional Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali di Denpasar, Senin (2/2) menjelaskan, deflasi awal tahun ini terutama dipengaruhi oleh penurunan harga pada beberapa kelompok pengeluaran, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi 0,45 persen. Selain itu, penurunan indeks juga terjadi pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,24 persen, serta rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,13 persen.

Baca juga:  Tes Swab Ratusan Warga Banjar Serokadan Sebagian Sudah Keluar, Ini Hasilnya

Sementara itu, tekanan inflasi tahunan masih berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang naik signifikan sebesar 13,70 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, pendidikan, serta kesehatan.

“Kondisi deflasi di awal tahun ini mencerminkan adanya penyesuaian permintaan masyarakat pasca libur akhir tahun, sekaligus memberi ruang bagi terjaganya daya beli, meski kewaspadaan terhadap tekanan inflasi struktural tetap diperlukan,” paparnya.

Baca juga:  Bali Pertahankan Peringkat 5 di PON Lebih Sulit

Diterangkan walaupun Bali inflasi tahunansebesar 2,58 persen pada Januari 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 110,63, capaian tersebut menunjukkan inflasi Bali masih berada dalam rentang terkendali.

Berdasarkan data BPS, inflasi tertinggi terjadi di Kota Denpasar sebesar 3,60 persen dengan IHK 111,75, sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Badung sebesar 1,09 persen dengan IHK 107,68.

Inflasi tahunan tersebut didorong oleh kenaikan harga pada delapan kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melonjak 13,70 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,02 persen, pendidikan sebesar 3,09 persen, serta kesehatan sebesar 2,35 persen.

Baca juga:  Tab Hotel Pertama Beroperasi di Bali

Selain itu, kelompok transportasi mengalami inflasi 1,74 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,49 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,27 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,73 persen.

Di sisi lain, terdapat tiga kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami deflasi 0,45 persen, disusul kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,24 persen, serta kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,13 persen.(Suardika/binisbali)

BAGIKAN