Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana saat melakukan kunjungan ke Bali Safari & Marine Park, Gianyar, Rabu (25/3). (BP/Win)

GIANYAR, BALIPOST.com – Di tengah bayang-bayang ketegangan geopolitik global, sektor pariwisata Bali justru menunjukkan daya tahan. Kunjungan wisatawan selama libur Lebaran dan Nyepi 2026 tercatat tetap meningkat, bahkan saat sejumlah pembatalan perjalanan sempat terjadi.

Hal ini terungkap saat Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana melakukan kunjungan ke Bali Safari & Marine Park, Gianyar, Rabu (25/3). Kunjungan tersebut tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memastikan kesiapan destinasi menghadapi lonjakan wisatawan di momen libur panjang.

Menurut Widiyanti, Bali Safari dipilih karena menjadi salah satu ikon wisata edukasi satwa di Bali dengan koleksi mencapai sekitar 9.000 ekor hewan. Selain itu, tingkat kunjungan yang tinggi menjadikan lokasi ini representatif untuk melihat langsung kualitas layanan pariwisata.

Baca juga:  Dari Bypass Ida Bagus Mantra akan Dilanjutkan hingga Pelonggaran Pemakaian Masker Berlaku

“Dari sisi amenitas, kebersihan, hingga kenyamanan fasilitas, kami mendapatkan impresi yang sangat baik,” ujarnya.

Selama periode libur, kunjungan harian ke Bali Safari berkisar antara 2.000 hingga 3.000 orang, bahkan bisa melonjak hingga 5.000 orang saat puncak kunjungan. Angka ini mencerminkan tingginya minat wisatawan domestik maupun mancanegara.

Secara umum, Kementerian Pariwisata mencatat adanya kenaikan kunjungan sebesar 3,5 persen dibandingkan Lebaran 2025. Peningkatan ini dinilai cukup positif mengingat situasi global, khususnya konflik di Timur Tengah, sempat memicu kekhawatiran dan pembatalan perjalanan.

Baca juga:  Vital, Peran Humas Jembatani Komunikasi Pemerintah dengan Masyarakat

Meski begitu, dampaknya dinilai terbatas. Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, I Wayan Sumarajaya menyebut pasar Timur Tengah bukan kontributor utama wisatawan ke Bali.

“Lima besar wisatawan kita masih didominasi Australia, India, China, Korea Selatan, dan Inggris. Jadi pengaruhnya tidak terlalu signifikan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa kondisi penerbangan di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kini berangsur normal pasca gejolak global tersebut.

Baca juga:  Bali Alami Deflasi Awal Tahun 2026

Di sisi lain, okupansi hotel selama periode libur tercatat berada di kisaran 60 hingga 65 persen. Angka ini menunjukkan stabilitas sektor akomodasi di tengah periode yang masih tergolong low season.

Sumarajaya berharap momentum libur ini bisa menjadi pemicu tren positif ke depan. Target kunjungan wisatawan ke Bali pada 2025 yang mencapai 6,9 juta orang pun tetap dijadikan acuan untuk tahun ini.

“Wisatawan nusantara terlihat sangat membeludak. Ini sinyal positif agar tren ini bisa berlanjut di bulan-bulan berikutnya,” pungkasnya. (Winata/Balipost)

 

BAGIKAN