Gunung Batur di Kintamani. (BP/Dokumen)

BANGLI, BALIPOST.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bali mengumumkan penutupan sementara aktivitas wisata alam, penelitian, dan pendidikan di empat kawasan hutan konservasi. Salah satunya Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Batur Bukit Payang, Bangli.

Kebijakan ini diberlakukan guna menghormati perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Penutupan ini tertuang dalam Pengumuman Kepala Balai KSDA Bali Nomor PG.1/K.23/TU/KSA.01.04/B/03/2026. Selain TWA Gunung Batur Bukit Payang, penutupan serupa juga dilakukan di TWA Danau Buyan-Tamblingan, TWA Penelokan, dan TWA Sangeh.

Baca juga:  Pembangunan Permukiman Warga Dusun Yeh Mampeh Terkendala Cuaca

Kunjungan di kawasan tersebut ditutup selama tiga hari, sejak hari Rabu (18/3) hingga Jumat (20/3). Kawasan akan dibuka kembali pada Sabtu (21/3) pukul 09.00 WITA.

Penutupan sementara ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Catur Brata Penyepian, yaitu Amati Geni (tidak menyalakan api atau cahaya), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian), dan Amati Lelanguan (tidak bersenang-senang). Selain itu momentum Nyepi juga menjadi kesempatan bagi alam untuk beristirahat sejenak dari aktivitas kunjungan wisata, sehingga ekosistem kawasan konservasi dapat pulih dan tetap terjaga kelestariannya.

Baca juga:  Dari Bule Perempuan Pose Bugil hingga Kintamani Ramai

“Balai KSDA Bali mengajak seluruh masyarakat dan wisatawan untuk menghormati pelaksanaan Hari Suci Nyepi serta bersama-sama menjaga harmoni alam dan budaya Bali, sehingga tercipta kebersamaan, kenyamanan, dan rasa aman yang berpadu dalam semangat Nyaman Bersama,” kata Kepala Balai KSDA Bali, Ratna Hendratmoko dalam siaran persnya.

Balai KSDA Bali berharap dukungan dan pengertian dari seluruh masyarakat serta wisatawan untuk mematuhi kebijakan penutupan sementara ini. Dengan menghormati pelaksanaan Hari Suci Nyepi dan menjaga ketenangan alam, diharapkan kawasan konservasi tetap lestari serta dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan, budaya, dan masyarakat. (Dayu Swasrina/balipost)

Baca juga:  Tiktok Shop Tidak Ditutup, Melainkan Ditata
BAGIKAN