Beberapa wisatawan mancanegara (wisman) berbaur dengan warga melihat-lihat suasana pasar kuliner di Denpasar. Jumlah kunjungan wisman ke Kota Denpasar belum mengalami peningkatan yang signifikan, meski nilai tukar Dolar Amerika terhadap Rupiah meningkat. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah seharusnya bisa menarik wisatawan mancanegara (wisman) lebih banyak datang ke Bali. Pasalnya, harga mata uang wisman akan lebih tinggi dan bisa mendapatkan wisata lebih murah di Bali. Namun kondisi saat ini belum menguntungkan sektor pariwisata karena pengaruh konflik di Timur Tengah masih cukup tinggi terutama terhadap harga tiket pesawat.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Denpasar, Ida Bagus Gde Sidharta Putra saat diwawancarai, Senin (18/5), mengatakan, kondisi saat ini menimbulkan dualisme. Di satu sisi, seharusnya kenaikan harga dolar AS ini bisa menarik kunjungan wisman ke Bali karena mereka bisa mendapatkan harga yang lebih murah baik dari segi penginapan, makan dan lainnya. “Itu karena nilai uang mereka jadi lebih tinggi. Mereka bisa mendapatkan room lebih murah, termasuk makanan,” katanya.

Baca juga:  Spirit Nangun Sat Kerthi Lokal Bali, Gerakan Membangun Ekonomi Kerakyatan  

Namun harapan tersebut terhalang dengan konflik Timur Tengah yang membuat harga tiket pesawat tinggi. Hal tersebut dipengaruhi banyaknya penerbangan yang tidak berjalan. Kondisi ini menjadi kendala wisman datang ke Indonesia, terutama Eropa yang menjadi pasar potensial Bali, termasuk Denpasar.

Hingga saat ini, kata pria yang akrab disapa Gusde ini, belum ada tanda-tanda kenaikan jumlah wisman ke Denpasar. Tingkat hunian atau okupansi kamar hotel di Denpasar, khususnya Sanur yang menjadi pasar wisman, masih berkisar 70 hingga 75 persen. “Kunjungan belum ada kenaikan signifikan. Termasuk okupansi masih stabil 70 hingga 75 persen,” katanya.

Baca juga:  Meningkat, Jumlah Kunjungan Wisman ke Indonesia

Meski demikian, Gusde menilai akan ada seleksi market yang dilakukan wisatawan. Dalam artian, bagi wisman yang memiliki finansial lebih tetap akan memilih traveling. “Tergantung sekarang kenaikan kurs dan tiket ini seberapa besar. Ini akan menjadi pilihan wisatawan,” katanya.

Di sisi lain, tingginya nilai tukar dolar terhadap rupiah ini dikatakannya juga mempengaruhi pengeluaran (cost) sektor pariwisata. Hal tersebut lantaran beberapa hotel dan restoran ada yang diharuskan mengimpor beberapa produk. Ini akan membuat cost yang dikeluarkan menjadi lebih besar. (Widiastuti/balipost)

Baca juga:  Juni 2024, Devisa Ekspor Bali Melonjak 4,1 Juta Dolar AS
BAGIKAN