
DENPASAR, BALIPOST.com – Bali tak cuma menjual pemandangan, tapi pengalaman hidup yang autentik. Di tengah persaingan destinasi global, Pulau Dewata menguatkan identitasnya lewat budaya yang menyatu dengan keseharian masyarakat.
Berdasarkan survei dalam buku Karakteristik dan Indeks Kepuasan Wisatawan Mancanegara 2025, mayoritas wisatawan mancanegara (wisman) datang bukan hanya untuk melihat, tapi merasakan langsung kehidupan Bali.
Kepala Bidang Promosi Pariwisata Bali, Ida Ayu Indah Yustikarini, menegaskan konsep “Pariwisata Budaya” menjadi fondasi utama arah pengembangan pariwisata Bali. “Sebanyak 87,2 persen wisatawan datang untuk liburan dan rekreasi, tetapi yang mereka cari bukan hanya tempat, melainkan pengalaman,” ujarnya, Senin (27/4).
Daya tarik utama bukan lagi sekadar pantai atau panorama alam, melainkan tradisi dan kehidupan masyarakat. Wisatawan disebut paling tertarik pada adat istiadat, diikuti kuliner, sejarah, arsitektur, hingga spiritualitas dan kehidupan desa.
Fenomena ini mempertegas pergeseran tren global, dari sightseeing ke meaningful tourism. Bali dinilai berhasil membaca arah tersebut lebih cepat dibanding destinasi lain. “Budaya Bali itu bukan pertunjukan yang dibuat-buat. Ini kehidupan sehari-hari. Itu yang membuat wisatawan merasa terhubung,” jelasnya.
Data kunjungan awal 2026 menunjukkan wisman banyak yang mengunjungi pasar tradisional. Australia tetap menjadi penyumbang wisatawan terbesar dengan 234.302 kunjungan dalam dua bulan pertama, disusul China dan India.
Dominasi Australia dinilai bukan kebetulan. Faktor konektivitas penerbangan langsung menjadi salah satu kunci, di samping kedekatan geografis dan historis hubungan pariwisata kedua wilayah. (Ketut Winata/balipost)










