Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan. (BP/kmb)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Bali pada Maret 2026 sebesar 2,81 persen. Inflasi ini dipicu oleh sejumlah faktor.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar menjelaskan, inflasi dihitung berdasarkan pemantauan harga di empat kabupaten/kota, yakni Denpasar, Singaraja, Kabupaten Badung, dan Kabupaten Tabanan.

“Pada Maret 2026 terjadi inflasi y-on-y sebesar 2,81 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,94 pada Maret 2025 menjadi 112,02 pada Maret 2026,” ujarnya Rabu (1/4).

Selain inflasi tahunan, BPS Bali juga mencatat inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) sebesar 0,91 persen dan inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,56 persen.

Baca juga:  Amankan Bandara Ngurah Rai, Jumlah Personel Polres Belum Memadai

Secara tahunan, inflasi terjadi karena kenaikan harga pada sepuluh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 7,99 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,05 persen serta kelompok pendidikan sebesar 3,09 persen.

Kelompok makanan, minuman dan tembakau tercatat naik 2,33 persen, transportasi 1,74 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 1,59 persen. Sementara kelompok rekreasi, olahraga dan budaya mengalami penurunan sebesar 0,38 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain tarif listrik, daging ayam ras, emas perhiasan, sewa rumah, beras, tarif air minum PAM, bawang merah, ikan tongkol, angkutan udara, rokok, serta biaya pendidikan.

Baca juga:  Inflasi 2022 Capai 5,51 Persen

Sementara itu, komoditas yang menahan inflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, bawang putih, bensin, sayuran, tempe, telepon seluler, hingga pisang.

Agus menjelaskan, sejumlah peristiwa pada Februari dan Maret menjadi faktor utama pergerakan inflasi di Bali. Perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri menyebabkan peningkatan permintaan berbagai komoditas.

“Di bulan Maret terdapat sejumlah hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri yang mendorong peningkatan permintaan pada sejumlah komoditas,” jelasnya.

Selain itu, kenaikan harga cabai terjadi karena meningkatnya permintaan saat hari raya yang tidak diimbangi produksi akibat musim hujan.

Baca juga:  Penduduk Miskin Bali di September 2021 Capai Tertinggi Kedua Setelah 2015

Faktor lain yang memicu inflasi adalah kenaikan harga BBM non-subsidi seperti Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex yang berdampak pada biaya transportasi.

Di sisi lain, pemerintah memberikan stimulus berupa diskon tarif angkutan udara kelas ekonomi domestik sebesar 17 hingga 18 persen pada periode 14–29 Maret 2026 untuk menahan laju inflasi sektor transportasi.

BPS juga mencatat adanya kenaikan tarif air minum PDAM di wilayah Buleleng serta penurunan harga emas yang cukup dalam pada Maret 2026.

Dengan berbagai faktor tersebut, BPS menilai inflasi Bali pada Maret 2026 masih terkendali meskipun terdapat tekanan dari sisi energi, pangan, dan peningkatan permintaan saat hari raya. (Suardika/balipost)

BAGIKAN