Aktivitas pedagang dan pembeli di Pasar Ketapian, Denpasar. (BP/eka)

DENPASAR, BALIPOST.com – Inflasi Provinsi Bali pada April 2026 tetap terjaga dalam kisaran sasaran, memberikan ruang bagi daya beli masyarakat di tengah tekanan konflik geopolitik global.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani di Denpasar menegaskan capaian ini tidak lepas dari sinergi kuat Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Bali.

Ke depan, Bank Indonesia mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain ketidakpastian cuaca pada peralihan musim hujan ke kemarau yang berpotensi disertai El Nino, kenaikan harga minyak dan komoditas global, serta peningkatan permintaan saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan periode long weekend yang mendorong konsumsi, terutama dari sektor pariwisata.

Baca juga:  Bangkitkan Harapan lewat Wakaf dan Sedekah Bangun Rumah Tahfidz

Untuk menjaga stabilitas inflasi, BI Bali bersama pemerintah daerah akan terus memperkuat strategi melalui tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi distribusi, dan memperkuat regulasi.

Langkah tersebut diimplementasikan melalui intensifikasi operasi pasar berbasis prinsip 3T (tepat waktu, tepat lokasi, tepat sasaran), penguatan kerjasama antar daerah (KAD), serta perluasan ekosistem ketahanan pangan hulu-hilir yang melibatkan BUMDes, Perumda pangan, dan koperasi.

“Dengan berbagai upaya tersebut, inflasi Bali pada 2026 diprakirakan tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5%±1%,” ujarnya Selasa (5/5).

Baca juga:  Pecat CPNS, Walikota Denpasar Di-PTUN-kan

Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali pada 4 Mei 2026, inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Bali tercatat sebesar 0,01%, lebih rendah dibandingkan Maret 2026 sebesar 0,50% dan juga di bawah inflasi nasional yang mencapai 0,13%.

Sementara itu, inflasi tahunan (year-on-year/yoy) menurun dari 2,81% pada Maret menjadi 2,08% pada April 2026. Inflasi yang terjaga mendukung daya beli masyarakat di tengah konflik geopolitik global.

Ia menjelaskan, inflasi secara bulanan dipengaruhi oleh kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi serta dinamika harga komoditas global, meskipun ketersediaan sejumlah komoditas pertanian masih mencukupi.

Baca juga:  DPRD Badung akan Sidak Agen Perjalanan Tiongkok

Secara spasial, hanya Kota Denpasar yang mengalami inflasi bulanan pada April 2026 sebesar 0,19% (mtm) dengan inflasi tahunan 2,51% (yoy), masih dalam kisaran target 2,5±1%. Sementara itu, Kota Singaraja mengalami deflasi bulanan sebesar -0,09% (mtm), diikuti Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Badung yang masing-masing mencatat deflasi bulanan sebesar -0,17% (mtm).

Dari sisi komoditas, tekanan inflasi berasal dari kenaikan harga angkutan udara, beras, minyak goreng, canang sari, serta nasi dengan lauk. Namun, laju inflasi tertahan oleh penurunan harga cabai rawit, daging ayam ras, sawi hijau, buncis, dan emas perhiasan. (Suardika/balipost)

BAGIKAN