
DENPASAR, BALIPOST com – Meski Indonesia mulai memasuki musim kemarau dan dibayangi potensi fenomena El Nino, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih kerap terjadi. Termasuk di sejumlah wilayah Bali.
Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Kadek Setiya, mengungkapkan hujan tidak hanya dipengaruhi satu faktor seperti El Nino, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks berbagai dinamika atmosfer.
“Saat ini masih terpantau aktifnya gelombang atmosfer Rossby Equatorial yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah Bali,” jelasnya saat dikonfirmasi Bali Post, Kamis (9/4).
Selain itu, Bali disebut belum sepenuhnya memasuki musim kemarau. Saat ini masih berada dalam fase peralihan dari musim hujan ke kemarau, sehingga kondisi cuaca cenderung labil dan mudah berubah.
Dalam periode pancaroba ini, dikatakan hujan tetap berpeluang terjadi. Meskipun secara umum frekuensi dan akumulasi curah hujan akan lebih rendah dibandingkan saat puncak musim hujan.
BMKG juga mencatat, secara nasional baru sekitar 7 persen Zona Musim (ZOM) yang telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah hingga Juni mendatang.
Di sisi lain, Indonesia juga bersiap menghadapi potensi El Nino pada semester kedua 2026. Berdasarkan pemodelan BMKG, peluang kemunculan El Nino berada di kisaran 50–80 persen dengan kecenderungan pada kategori lemah hingga moderat.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebutkan bahwa saat ini kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) masih berada pada fase netral, sehingga belum memberikan pengaruh signifikan terhadap pola cuaca di Indonesia.
“Masih ada kemungkinan kecil, kurang dari 20 persen, El Nino berkembang menjadi kategori kuat,” ujarnya dalam siaran persnya, Rabu (8/4).
Lebih lanjut, BMKG menjelaskan bahwa hujan yang masih sering terjadi saat ini dipicu oleh sejumlah faktor regional dan lokal. Antara lain, aktivitas gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO). Suhu permukaan laut di perairan Indonesia yang masih hangat. Tingkat kelembapan udara yang relatif tinggi.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat pembentukan awan hujan masih cukup intens, meskipun secara klimatologis Indonesia mulai bergerak menuju musim kemarau.
Dengan kondisi ini, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama pada masa peralihan musim seperti sekarang. (Ketut Winata/balipost)










