
DENPASAR, BALIPOST.com – Pusat Daur Ulang (PDU) Tahura I telah beroperasi sejak Desember lalu dan mampu mengelola 35 hingga 45 ton per hari. PDU ini masih terkendala minimnya tenaga kerja serta belum optimalnya pemilahan sampah dari sumber yang membuatnya belum bisa beroperasi maksimal.
Pengawas PDU Tahura I, Made Widya Adnyana Astawa saat diwawancarai, Kamis (5/3), mengatakan, dari dua PDU yakni Tahura I dan II, kini yang sudah beroperasi hanya PDU I. “Untuk PDU II saat ini masih menunggu pemasangan mesin,” ungkapnya.
Sampah yang dikelola PDU Tahura I berasal dari beberapa depo di Denpasar Barat seperti depo Jalan Pulau Kawe, Monang Maning, Jalan Gunung Karang, dan beberapa titik lainnya. Dikatakannya, sampah yang masuk belum sepenuhnya terpilah sehingga di PDU masih dilakukan pemilahan terlebih dahulu. “Itu jadi kendala juga. Maksimal sehari bisa mengelola 45 ton, namun rata-rata 35 ton,” paparnya.
Selain itu, musim hujan yang membuat sampah basah juga jadi kendala. Hal tersebut lantaran mesin menjadi macet. Dalam pengelolaan sampah, di PDU ini ada 3 mesin gibrig dan 2 mesin EBT yang dioperasikan. Ada juga mesin pelet, namun belum beroperasi karena kekurangan tenaga dan arus listrik belum kuat.
Sampah yang masuk ke PDU ini diolah menjadi kompos, pelet, dan RDF. Kompos dibagikan kepada warga secara gratis, sedangkan RDF dan pelet dijual di kawasan Jalan Pulau Moyo, Denpasar.
Operasional PDU ini dimulai pukul 05.00 WITA hingga pukul 23.00 WITA dengan pekerja dibagi tiga shift. Shift pagi dengan 48 pekerja, shift siang 33 pekerja, dan sore 16 orang. Menurutnya, jumlah pekerja ini masih belum optimal, karena idealnya dalam satu shift minimal 60 orang.
“Sulit mencari tenaga untuk yang mau bekerja memilah sampah. Per orang dalam sehari minimal memilah 500 kg sampah,” paparnya.
Dirinya menambahkan, saat ini sudah ada tiga mesin yang belum terpasang untuk PDU Tahura I dan II dengan total kapasitas 300 ton. “Dua mesin di Tahura I dengan kapasitas masing-masing 100 ton, dan Tahura II satu mesin kapasitas 100 ton,” paparnya.
Pengoperasian mesin tersebut masih menunggu daya listrik, karena dibutuhkan 1 megawatt. Mesin inilah yang menurutnya dilihat oleh Menteri Lingkungan Hidup (LH), Hanif Faisol Nurofiq pada siang sekitar pukul 11.00 WITA. “Ada presentasi terkait mesin baru itu,” ungkapnya. (Widiastuti/bisnisbali)










