
SINGASANA, BALIPOST.com – Gerakan pemilahan sampah dari rumah mulai menunjukkan hasil di Kota Tabanan. Dalam kegiatan dropping point yang digelar selama tiga hari, sejak Jumat (15/5), hingga Minggu (17/5), sebanyak 288,8 kilogram sampah anorganik berhasil dikumpulkan dari partisipasi puluhan warga.
Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Kota Tabanan tersebut digelar oleh Patra Desa bersama Komunitas Talov (Tabanan Lovers) dan TPS 3R Sadu Kencana. Sebanyak 80 warga tercatat ikut berpartisipasi membawa sampah terpilah dari rumah masing-masing.
Perwakilan Patra Desa, Agus Sumberdana mengatakan, jenis sampah yang paling dominan terkumpul yakni plastik fleksibel dengan berat mencapai 79,8 kilogram atau 27,6 persen dari total keseluruhan sampah. Selain itu, PET campur dan kertas campuran juga masih mendominasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan persoalan utama sampah rumah tangga masih berasal dari kemasan sekali pakai. Karena itu, edukasi pengurangan sampah dan pemilahan dari sumber dinilai perlu terus diperkuat.
“Temuan ini menjadi gambaran bahwa pengurangan kemasan sekali pakai dan sistem pemilahan dari rumah harus diperkuat,” ujarnya, Senin (18/5).
Selain plastik fleksibel, sampah yang terkumpul terdiri dari residu 43,3 kilogram, kertas campuran dan dupleks 40,8 kilogram, PET kotor/campur 37,6 kilogram, buku dan kardus 24,5 kilogram, botol kaca 21 kilogram, kaleng 6,25 kilogram, serta jenis lainnya sebanyak 35,55 kilogram.
Agus menjelaskan, kegiatan dropping point bukan sekadar pengumpulan sampah, melainkan juga upaya edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilah sampah anorganik sejak dari rumah. Model pengumpulan seperti ini dinilai bisa menjadi solusi praktis di tengah masih terbatasnya akses masyarakat untuk membuang sampah terpilah.
Pihaknya berharap konsep serupa nantinya dapat diadopsi pemerintah desa maupun pemerintah daerah sebagai bagian dari penguatan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Kami berharap model seperti ini bisa diteruskan pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, karena pendekatan berbasis data seperti ini penting untuk evaluasi dan perbaikan sistem pengelolaan sampah,” katanya. (Puspawati/balipost)










