Pengolahan sampah organik di DTW Ulun Danu Beratan. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Persoalan sampah yang kini menjadi perhatian serius di berbagai daerah ternyata sudah lebih dahulu diantisipasi pengelola DTW Ulun Danu Beratan. Sejak tahun 2022, kawasan wisata yang menjadi ikon Bedugul tersebut telah menerapkan pengolahan sampah mandiri berbasis sumber dengan hasil utama berupa kompos untuk kebutuhan taman wisata.

Hingga kini, sistem pengolahan tersebut memasuki tahun keempat. Bahkan, pengelolaan sampah mandiri itu juga diterapkan pada anak usaha mereka, The Blooms Garden, mengingat taman menjadi salah satu aset utama wisata yang dikembangkan.

Baca juga:  Pasca OTT, Tarif Retribusi Objek Wisata Tirta Empul Naik Signifikan

Humas DTW Ulun Danu Beratan, I Made Sukarata menjelaskan, sebelumnya pengelolaan sampah masih bekerja sama dengan DLH Tabanan. Namun karena tingginya volume sampah, pengelolaan kemudian dilakukan secara mandiri. “Sudah kami laksanakan sejak 2022. Dulu sempat bekerja sama dengan DLH Tabanan,” ujarnya.

Ia mengatakan, volume sampah dari kawasan wisata Ulun Danu Beratan dan The Blooms Garden cukup tinggi. Dalam sepekan, timbulan sampah bahkan mencapai dua kontainer. Kondisi tersebut mendorong manajemen melakukan studi tiru ke sejumlah lokasi pengolahan sampah di Bali, mulai dari wilayah Selabih, Kecamatan Selemadeg Barat, hingga Kabupaten Klungkung.

Baca juga:  Desa Adat Manggissari Pertahankan Wisata Bunut Bolong

Saat ini, aktivitas pengolahan dilakukan di lahan sekitar 2 are yang berada di selatan kawasan The Blooms Garden dengan melibatkan sekitar 30 petugas kebun. Setiap hari, hampir 100 kilogram sampah mampu diolah dari kawasan pura, taman hingga area publik. Pengolahan diawali dengan proses pemilahan ketat antara sampah organik, plastik dan residu pada masing-masing unit, termasuk restoran.

Sampah organik kemudian diolah menjadi kompos, sedangkan sampah plastik dipilah dan dijual kepada pihak ketiga. Hasil penjualan sampah anorganik itu selanjutnya dibagikan kepada petugas kebun sebagai bentuk apresiasi.

Baca juga:  Sampah Masalah Kita Bersama

Menurut Sukarata, sistem pengolahan mandiri tersebut juga memberi dampak penghematan karena pengelola tidak lagi membeli pupuk kimia untuk kebutuhan taman. “Kompos yang dihasilkan dikembalikan lagi ke taman di Ulun Danu Beratan maupun The Blooms Garden sebagai pupuk,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN