Kondisi tanaman padi di Subak Soka, Kecamatan Selemadeg, akibat serangan hama. (BP/istimewa)

SINGASANA, BALIPOST.com – Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) terjadi di sejumlah areal persawahan di empat kecamatan di Kabupaten Tabanan. Dinas Pertanian mencatat luas tanaman padi yang terdampak mencapai sekitar 95 hektare, dengan jenis serangan didominasi tikus, penggerek batang, tungro, hingga kresek.

Di Kecamatan Selemadeg, 10 hektare sawah diserang tikus. Selanjutnya, di Kecamatan Kerambitan terdapat 5 hektare terdampak penggerek batang dan tungro. Dii Kecamatan Tabanan mencapai 30 hektare dengan serangan penggerek batang, tungro, dan kresek. Sementara, paling luas terjadi di Kecamatan Kediri yakni sekitar 50 hektare akibat kresek.

Baca juga:  Mahasiswa Unud Jatuh dari Lantai 4 Bukan 2, Ini Hasil Olah TKP Inafis

Koordinator Pengendali OPT Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Putu Purnayasa, Selasa (10/2), mengatakan, berbagai langkah pengendalian telah diarahkan kepada petani. Mulai dari gerakan pengendalian bersama, penyemprotan, hingga pembersihan telajakan supaya tikus tidak menjadikan lokasi tersebut sebagai sarang.

Sebagai bentuk dukungan, pihaknya juga memfasilitasi pengajuan bantuan racun tikus ke Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bali. “Pengendalian tetap harus dilakukan secara terpadu dan serempak agar hasilnya maksimal,” ujarnya.

Baca juga:  Diserang Hama Tikus, Puluhan Hektar Sawah di Badung Gagal Panen

Kondisi paling terasa dialami petani di Subak Soka yang membentang di Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat dan Desa Antap, Kecamatan Selemadeg. Tanaman padi berumur 40–60 hari jadi sasaran empuk serangan hama tikus. Bahkan di sejumlah petak, kerusakan lahan sawah sampai 90 persen.

Salah seorang petani, I Wayan Widhiarta mengakui serangan hama mulai meningkat dalam sebulan terakhir seiring intensitas hujan yang tinggi. Upaya pengendalian mandiri sudah dilakukan, namun belum mampu membendung perkembangan hama. “Sudah diupayakan, tapi tetap saja diserang. Ada yang sampai habis dirusak tikus,” keluhnya.

Baca juga:  Dana LUEP Dihentikan, Perpadi Pinjam di Bank

Menurutnya, ancaman kerugian makin dihantui biaya produksi yang dikeluarkan petani yang tidak sedikit. Untuk satu are lahan, kebutuhan biaya bisa mencapai sekitar Rp200 ribu, belum termasuk tenaga dan perawatan. Jika puso, petani dipastikan merugi.

Petani berharap ada intervensi lebih intens dari pemerintah sehingga serangan tidak meluas. Mereka khawatir, bila kondisi ini terus berulang tanpa solusi nyata, semangat bertani bisa menurun dan berdampak pada upaya menjaga ketahanan pangan daerah. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN