Agung Kresna. (BP/Istimewa)

Oleh : Agung Kresna

Presiden Joko Widodo jalani vaksinasi COVID-19 perdana. Headline Bali Post (14/1) ini menandakan dimulainya secara resmi program vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Program vaksinasi ini resmi berjalan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan izin penggunaan darurat terhadap vaksin produksi Sinovac.

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa halal bagi vaksin tersebut. Penanganan pandemi COVID-19 dimanapun memang selalu dihadapkan pada dilema antara aspek kesehatan dan ekonomi.

Di Provinsi Bali, dilema ini semakin bertambah besar karena perekonomian Bali saat ini sangat mengandalkan aktivitas industri pariwisata yang selalu berkait dengan mobilitas orang. Situasi ini tentu membutuhkan kerjasama seluruh stakeholders.

Amnesty International melansir bahwa hingga pertengahan Juli 2020, di seluruh dunia terdapat 3.000 (tiga ribu) tenaga kesehatan yang meninggal akibat terpapar COVID-19. Sementara Indonesia sendiri telah kehilangan 507 (lima ratus tujuh) tenaga kesehatan terhitung per 28 Desember 2020 karena terpapar COVID-19. Angka yang tidak sedikit untuk jangka 10 bulan sejak Maret 2020, ketika pasien positif COVID-19 pertama kali ditemukan di Indonesia.

Tercatat kematian 228 dokter (44,97 persen), 167 perawat (32,93 persen), 68 bidan (13,41 persen), 13 dokter gigi dan 2 terapis gigi (2,95 persen), 15 radiografer (Lab. Medik, radiologis, elektro medik) 2,95 persen, 8 apoteker/farmasi/sanitarian (1,57 persen), 2 sopir ambulans dan 4 tenaga pendukung medis (1,18 persen). Jumlah kematian antara Agustus dan Desember tercatat naik dua kali lipat jika dibandingkan dengan lima bulan pertama pandemi.

Baca juga:  Bergerak Merawat Kebangsaan dengan Penguatan Multikultur

Hasil kajian tim dari Program Magister Kedokteran Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia juga menunjukkan bahwa saat ini tingkat kelelahan tenaga kesehatan dalam menangani pandemi COVID-19 telah berada pada titik yang sangat mengkhawatirkan. Kajian ini melibatkan 1.461 responden tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia.

Data kajian menunjukkan bahwa 1.197 responden (82 persen) mengalami kelelahan dalam kategori sedang, 248 responden (17 persen) kategori rendah, dan 16 responden (1 persen) berkategori tinggi. Kelelahan tenaga kesehatan ini adalah sindrom psikologis akibat respons kronik terhadap tekanan atau konflik, yang sering disebut sebagai burnout.

Dalam hal ini responden mengalami keletihan emosi serta kehilangan empati dan rasa percaya diri. Adagium yang selama ini digaungkan bahwa tenaga kesehatan merupakan garda terdepan dalam menangani pandemi COVID-19, sudah saatnya harus diubah.

Tenaga kesehatan seharusnya menjadi benteng terakhir dalam penanganan pandemi ini. Masyarakatlah yang harus menjadi garda terdepan dalam menangani pandemi COVID-19 ini. Utamanya melalui prokes 3 M.

Baca juga:  Klungkung Undur Rencana Vaksinasi Perdana

Kolaborasi Sosial

Upaya menghentikan pandemi COVID-19 memang harus ditempuh sedini mungkin. melalui sarana yang bersifat preventif (pencegahan) maupun kuratif (pengobatan). Upaya preventif dapat melalui asupan ramuan herbal maupun vaksin COVID-19 bagi yang sehat. Sedang upaya kuratif dengan memberikan obat bagi pasien yang positif terpapar COVID-19.

Saat ini pengadaan vaksin COVID-19 dilakukan melalui kerjasama antara PT. Bio Farma dengan Sinovac-China. Sedang vaksin produksi dalam negeri berjuluk Vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Percepatan Penanganan COVID-19, diperkirakan akan mulai siap diproduksi pada akhir tahun 2021.

Proses meredam pandemi COVID-19 ini –baik upaya pemberian vaksin, obat, maupun imunitas dengan ramuan herbal- harus dilakukan secara simultan dan gotong royong bersama-sama seluruh lini warga bangsa ini; sesuai profesi masing-masing. Tanpa kolaborasi bersama seluruh masyarakat, niscaya pandemi COVID-19 ini akan sulit dihentikan. Upaya komprehensif ini merupakan asa guna mengakhiri pandemi COVID-19.

Memutus paparan pandemi COVID-19 melalui peningkatan imunitas tubuh, secara tidak langsung telah membuat ramuan herbal rempah tradisional kembali naik daun. Aneka produk rempah nusantara adalah cultural wisdom leluhur bangsa Indonesia.

Baca juga:  Vaksinasi Rabies di Tabanan Lampaui Target

Demikian juga dengan ramuan herbal rempah Bali yang lebih banyak berfungsi sebagai ramuan sarana terapi usada, melalui minuman, makanan atau olesan. Ramuan herbal rempah Bali dapat berwujud loloh (jamu), boreh (lulur atau parem), pepeh (tetes), oles, simbuh (sembur), dan uap (urap), Kearifan lokal leluhur krama Bali dalam peradaban rempah ini harus kembali diberdayakan.

Hal ini mengingat rempah Bali adalah olahan herbal sebagai sarana meningkatkan imunitas krama Bali terhadap paparan COVID-19. Imunitas tubuh menjadi kata kunci dalam langkah pertama menangkal COVID-19.

Kenaikan kasus positif COVID-19 beserta jumlah pasien yang dirawat membutuhkan penanganan yang lebih serius dan komprehensif. Kita juga tidak boleh bersikap seolah-olah COVID-19 sudah bisa dikendalikan hanya karena adanya kenaikan angka kesembuhan serta adanya vaksinasi.

Kolaborasi sosial vaksinasi semakin dibutuhkan, agar krama Bali dapat melewati pandemi COVID-19 dengan selamat sekaligus menjadi anak bangsa yang sehat dan tetap produktif. Kesadaran ini harus terus disebarluaskan karena kita belum tahu kapan krisis akibat pandemi ini akan berakhir.

Penulis Arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *