
NEGARA, BALIPOST.com – Vaksinasi penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) pada ternak Sapi di Jembrana mulai dilakukan Selasa (20/1). Sebanyak 400 dosis vaksin diberikan ternak sapi warga di sekitar lokasi ternak yang terjangkit penyakit tersebut. Dengan jumlah dosis vaksin bantuan dari Kementerian Pertanian tersebut diperkirakan masih belum cukup untuk populasi Sapi dan Kerbau di Kecamatan Melaya maupun Kecamatan Negara.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Gusti Ngurah Putu Sugiarta mengatakan dari 400 dosis yang tersedia menurutnya difokuskan pada ternak sapi yang berada dekat lokasi terdampak. Yakni di lima desa dan satu kelurahan di Kecamatan Negara dan Kecamatan Melaya.
Hingga saat ini belum ada penyebaran kasus terjangkit, karena baru terlihat setelah beberapa hari dan dapat dipastikan melalui hasil laboratorium Balai Besar Veteriner.
“Sampai sekarang belum ada, nanti kita ambil sampel lagi. Kita fokus hari ini pencegahan di sekitar lokasi yang terdampak, seperti di Manistutu (melaya), Baluk, Banyubiru dan BB Agung (Negara) dengan vaksin,” terangnya.
Selain vaksin, peternak juga diminta untuk menjaga kebersihan kandang dengan penyemprotan dan memisahkan sapi. Dua wilayah lain yang juga ditemukan kasus LSD yakni desa Berangbang dan Kaliakah akan dilanjutkan lebih lanjut. Tim fokus pada wilayah yang paling banyak kasus, yakni di Manistutu, Kecamatan Melaya.
Terkait jumlah vaksin untuk LSD ini diakui masih jauh dari estimasi jumlah sapi di Jembrana yakni sebanyak 41 ribu ekor sapi. Rinciannya di Melaya estimasi 16.144 ekor dan di Kecamatan Negara, 10.000 ekor. Dinas menurutnya terus berkoordinasi dengan Provinsi dan Kementan untuk memenuhi vaksin tersebut. Paling tidak di wilayah yang ditemukan kasus atau dua kecamatan tersebut.
Sejatinya, penyakit LSD atau dikenal lato-lato ini tidak separah PMK (penyakit mulut dan kuku). Daging masih dapat dikonsumsi kecuali kulit dan jeroan. Penanganan yang sesuai prosedur, ternak yang terjangkit bisa sembuh. (surya dharma/balipost)









