
MANGUPURA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Badung mulai menguji coba vaksinasi ratusan ternak sapi guna mencegah penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD). Upaya ini difokuskan di Sentra Pembibitan Ternak Sapi Sobangan, Kecamatan Mengwi, sebagai langkah antisipasi sejak dini terhadap penyakit kulit menular pada sapi tersebut.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, I Wayan Wijaya, mengatakan pihaknya menerima 220 ampul vaksin LSD dari pemerintah pusat. Vaksin tersebut langsung diarahkan untuk perlindungan ternak di kawasan sentra sapi. “Dengan jumlah vaksin itu, kita akan fokus untuk di Sentra Ternak Sobangan.Vaksin ini sudah kita uji coba hasilnya cukup baik,” kata Wijana, pada Minggu (8/2).
Selain vaksinasi, pengawasan lalu lintas ternak juga diperketat. Dinas Pertanian dan Pangan Badung bersama tim gabungan Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar memantau aktivitas keluar-masuk sapi, khususnya di pasar ternak. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk memastikan sapi yang diperdagangkan bebas dari gejala LSD. “Kami sudah koordinasi dengan kepala pasar untuk melakukan langkah-langkah pengamatan dan pencegahan dengan melakukan spraying dan menempatkan petugas kami setiap pasaran,” katanya.
Penyakit LSD sebelumnya terdeteksi di Bali pada sapi di Kabupaten Jembrana dan kemudian ditemukan di Kabupaten Buleleng. Hingga kini, Badung masih dinyatakan aman dari penyebaran virus yang menyerang kulit sapi tersebut. Wijana menegaskan pemantauan lapangan terus diintensifkan. Seluruh petugas Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di kecamatan diminta aktif melakukan pengawasan, termasuk di Pasar Hewan Beringkit. “Berdasarkan laporan terbaru, hingga saat ini belum ada temuan ataupun laporan terkait Lumpy Skin Disease (LSD) di Badung,” ujarnya.
Pengelola pasar juga diminta memperkuat biosecurity mengingat tingginya mobilitas ternak antarwilayah. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan sapi yang diperjualbelikan. “Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan kesehatan hewan ternak, khususnya sapi, yang diperjualbelikan di pasar,” katanya.
BBV Denpasar turut melakukan pemantauan intensif melalui pemeriksaan dan pengambilan sampel sapi yang masuk ke Pasar Beringkit pada 18 Januari 2026. Sebanyak 491 ekor sapi diperiksa dan tidak ditemukan gejala klinis LSD. Sampel yang diambil secara acak juga diuji menggunakan metode PCR LSD di Laboratorium Bioteknologi BBV Denpasar. Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif.
Manajemen Pasar Hewan Beringkit mengambil langkah preventif dengan penyemprotan disinfektan berkala serta penyampaian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) melalui pengeras suara pasar. Upaya ini bertujuan meningkatkan kewaspadaan pedagang dan pembeli terhadap LSD maupun Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) lainnya.
Pasar Hewan Beringkit sendiri telah menerapkan protokol kesehatan ketat, termasuk pemeriksaan kesehatan hewan dan penyemprotan disinfektan, untuk mencegah penyebaran penyakit,” tegasnya. (Parwata/balipost)










