NEGARA, BALIPOST.com – Kakao Jembrana masih dilirik para buyer dari Eropa dan Asia. Pasar ekspor komoditi agro unggulan Jembrana ini dari tahun ke tahun terus meningkat.

Namun, keterbatasan produksi (panen) dan proses fermentasi menjadi salah satu kendala memenuhi permintaan tersebut. Tahun 2019 ini, ditargetkan produksi kakao tembus 300 ton. Namun secara realistis maksimal dapat tercapai 150 ton. Itupun terbagi untuk pasar lokal.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana, I Wayan Sutama, Kamis (25/7) mengatakan Kakao menjadi salah satu komoditi perkebunan unggulan Kabupaten Jembrana saat ini. Meskipun di beberapa Subak Abian, beberapa petani menanam komoditi lainnya berdasarkan permintaan, seperti vanili.

Disebutkannya, dari target 300 ton, secara realistis yang bisa terpenuhi setahun 150 ton. Menurutnya ada beberapa faktor yang menghambat target itu terpenuhi.

Dari sisi produksi di petani, proses fermentasi belum optimal. Begitu halnya di Koperasi yang menyalurkan penjualan masih kewalahan untuk mengolah. Di samping itu juga dari sisi permodalan yang masih kurang. “Sampai pertengahan tahun ini, kita memiliki stok 50 ton yang siap disuplai. Karena terus berproses untuk memenuhi permintaan lokal dulu. Agar modal koperasi juga terus berputar,” tandas Sutama.

Baca juga:  Kembangkan Sektor Lain yang "Inline" Pariwisata

Dinas Pertanian dan Pangan Jembrana menurutnya terus mengoptimalkan pengolahan di Unit Pengolahan Hasil (UPH) yang ada di Subak Abian.  Di samping itu juga di unit pengolahan di Koperasi.

Hal itu harus dilakukan karena Koperasi berkomitmen untuk membayar tunai ke petani. Sehingga untuk meningkatkan produksi, dari sisi permodalan juga sangat diperlukan.

Sementara dari sisi pasar, jumlah permintaan untuk ekspor terus meningkat. Pada 2016, target suplai 100 ton biji kakao kering ke Prancis dan Jepang. Selama tiga tahun selanjutnya target biji kakao ekspor bertambah.

Secara mutu, biji Kakao Jembrana  memiliki kualitas yang baik. Kebutuhan biji kakao tidak selalu untuk bahan makanan atau minuman, melainkan juga untuk bahan kosmetik, powder, butter dan lain-lain. Terutama untuk lemak dari minyak Kakao yang dihasilkan.

Dengan luas perkebunan 6.227 hektar, peluang Jembrana sebagai penghasil Kakao terbesar di Bali sangat terbuka. Di awal program kakao lestari (proses sertifikasi) pada 2011, hanya sedikit subak abian yang bergabung. Di 2019 ini dari total 147 subak abian di Jembrana, sudah 51 subak yang bergabung dan telah tersertifikasi untuk menyuplai kakao ekspor. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.