Rumah milik warga di Banjar Bantas, Desa Songan yang terkena bencana tanah longsor Februari 2017 lalu. (BP/ina)

 

BANGLI, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli menyarankan warga yang tinggal di wilayah Banjar Banjar Bantas Desa Songan Kintamani agar mengungsi saat terjadi hujan deras. Hal itu dilakukan untuk menghindari adanya bencana tanah longsor di wilayah tersebut, seperti yang pernah terjadi 2017 lalu. “Kita tadi sudah sarankan kalau hujan lebat, masyarakat di sana agar secepatnya mengungsi ke rumah kerabat. Kalau cuaca tidak hujan, boleh ada di sana,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Bangli Wayan Karmawan, Selasa (4/12).

Dia mengatakan, saran itu disampaikannya kepada warga Bantas saat hadir dalam kegiatan penunjang kapasitas pemulihan social ekonomi korban bencana di Desa Songan siang kemarin. Karmawan mengakui bahwa di tengah musim hujan saat ini, ada rasa kekhawatiran warga terhadap terjadinya bencana tanah longsor di Banjar Bantas. Kekhawatiran itu beralasan mengingat pada tahun 2017 lalu, bencana tanah longsor pernah menerjang beberapa rumah penduduk di Banjar Bantas hingga mengakibatkan 7 orang tewas.  “Tadi beberapa dari korban ada yang mengeluh ke kita. mereka mengaku khawatir. Maka dari itu kita sarankan untuk mengungsi ke rumah kerabat saat hujan lebat,” katanya.

Lanjut dikatakannya, selama ini warga Banjar Bantas sudah melakukan langkah antisipasi dengan mengungsi ke rumah kerabatnya saat hujan deras mengguyur. Rumah mereka di Banjar Bantas yang dulunya sempat dilanda bencana, hanya ditempati saat cuaca cerah. Karmawan mengatakan, wilayah Banjar Bantas masuk dalam zona merah rawan longsor. Karena itu tidak menutup kemungkinan bencana tanah longsor sewaktu-waktu bisa kembali terjadi di wilayah tersebut.

Baca juga:  Puluhan Warga Batal Nyeberang ke Nusa Penida

Sementara itu disinggung mengenai rencana relokasi 26 kepala keluarga (KK) warga Banjar Bantas ke lahan hutan milik pemerintah di Banjar Serongga, Karmawan mengatakan saat ini masih dalam proses. Diakuinya untuk merelokasi warga korban bencana ke tempat yang aman tidak bisa dilakukan dengan cepat. Butuh waktu yang cukup lama karena prosedur yang dilalui cukup panjang. “Kita sudah berusaha maksimal agar proses relokasi ini bisa cepat tuntas,” terangnya.

Sebagaimana yang diketahui bencana tanah longsor terjadi di Banjar Bantas pada Februari 2017 lalu. Tujuh orang warga setempat dilaporkan tewas akibat tertimbun longsor. Longsor terjadi saat wilayah Banjar Bantas diguyur hujan deras dini hari. Longsoran tanah diakibatkan dari dinding penahan tanah (DPT) yang ambrol. Selain di Banjar Bantas, di hari yang sama musibah tanah longsor juga terjadi di tiga desa lainnya yakni Desa Awan, Sukawana dan Subaya. Sebanyak enam orang dilaporkan meninggal dunia di tiga lokasi tersebut. (dayu rina/balipost)

 

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.