BANGLI, BALIPOST.com – Sejumlah pengungsi Gunung Agung di Bangli mulai merasakan jenuh tinggal di pos pengungsian. Bagaimana tidak, selama beberapa hari pengungsian, tidak banyak aktivitas yang bisa mereka lakukan, sebagaimana halnya yang bisa mereka lakukan di rumah asal mereka di Karangasem.

Seperti yang diungkapkan Wayan Astana, pengungsi asal Banjar Pemuteran, Desa Pempatan, Rendang Karangasem. Saat ditemui di pos pengungsian di Balai Desa Pengotan, Bangli belum lama ini, Astana yang sudah sepekan lebih menempati pos pengungsian mengaku sudah mulai jenuh.

Di pengungsian dirinya hanya bisa mengisi hari dengan tidur-tiduran, duduk-duduk, dan sesekali mengobrol dengan sesama pengungsi lainnya. “Kalau di rumah saya bisa bertani dan ngurusin ternak,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan pengungsi lainnya Ni Wayan Parmini. Ibu rumah tangga ini mengaku sangat ingin bisa kembali ke rumah agar bisa bekerja dan beraktifitas seperti biasa. “Di pengungsian ribet. Tidak ada hiburan. Tidak bisa bekerja. Kalau di rumah saya bisa bekerja jadi buruh tani,” ungkapnya.

Meski mengaku jenuh tinggal di pengungsian namun baik Astana maupun Parmini tidak bisa berbuat banyak. Mereka kini hanya bisa menunggu arahan pemerintah untuk pulang jika keadaan/aktifitas Gunung Agung sudah mulai menunjukan penurunan. “Sekarang kami hanya bisa menunggu keadaan,” kata Astana.

Baca juga:  Tenda Mulai Dipasang di Lapangan Puputan Klungkung

Selain Astana dan Parmini, rasa jenuh juga mulai dirasakan pengungsi asal Desa Pempatan Rendang yang menempati pos pengungsian di gedung SKB Kayuambua Susut. Kadek Ratih Dwiyana salah satunya. Ibu tiga puluh tahunan ini mengaku sudah mengungsi sejak aktivitas Gunung Agung meningkat ke level awas.

Namun untuk mengisi hari-harinya selama berada di pengungsian, Ratih Dwiyana terbilang cukup kreatif. Dia yang menyadari tinggal di pengungsian menjenuhkan, sengaja membawa stok daun lontar di rumahnya untuk diolah di pengungsian menjadi sarana upacara seperti cenigan, tamiang, lamak, dan perelengkapan upacara lainnya yang dibutuhkan saat upacara Galungan. Sambil mengurus anaknya, dalam seminggu dia bisa menghasilkan 150 lembar perlengkapan upacara.

Ratih mengaku perlengkapan upacara yang dibuatnya biasanya dijual di pasar Menanga, Rendang Karangasem. Namun karena hasil kerjanya banyak diminati oleh pegawai-pegawai di SKB, dirinya pun kini menjualnya juga ke pegawai dan warga sekitar pengungsian.

Ratih mengatakan hasil dari penjualan perlengkapan upacara cukup lumayan. Per hari, dirinya bisa mendapatkan penghasilan antara Rp 30-40 ribu. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.