ternak
Sapi warga Karangasem. (BP/dok)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Level III aktivitas Gunung Agung memaksa seluruh warga di lereng Gunung Agung, ramai-ramai mengungsi ke sejumlah titik pengungsian. Salah satunya, seluruh warga di Desa Jungutan Kecamatan Bebandem. Mereka diungsikan ke lokasi pengungsian sementara di sejumlah banjar di Desa Sibetan. Nasib para pengungsi disini berbeda dengan tempat pengungsian yang lain. Sebab belum ada unsur OPD terkait turun memberikan bantuan.

Beruntung disana kalangan pemuda Desa Adat Sibetan proaktif membantu para pengungsi. Mulai dari menyediakan kebutuhan logistik hingga menampung sapi warga agar tidak dijual murah karena panik.

Pengungsi dari warga Desa Jungutan ke Desa Sibetan sudah semakin banyak. Data pengungsi sementara hingga Jumat (22/9), warga dari masing-masing banjar dinas 90 persen sudah mengungsi. Tetapi, ada pula pengungsi dari beberapa banjar dinas yang masih minim.

Seperti dari Banjar Dinas Yeh Kori dari jumlah penduduk 634 orang, yang mengungsi sudah mencapai 439 orang ke Banjar Dinas Dukuh. Warga dari Banjar Dinas Galih 434 orang, total pengungsi sudah mencapai 385 orang ke Banjar Dinas Kreteg. Warga Banjar Dinas Untalan jumlah penduduk 537 orang, dipengungsian baru 178 orang ke Banjar Dinas Pengawan.

Banjar Dinas Kubu Pangi jumlah warga 532 orang, mengungsi 277 orang ke Banjar Dinas Telaga. Warga Banjar Dinas Mumbul jumlah warga 1.576 orang, yang mengungsi baru 514 orang ke Banjar Mantri dan Banjar Tengah. Warga Banjar Abian Tihing Kaja dan Abian Tihing Kelod jumlah penduduk keseluruhan 1.275 orang baru mengungsi 62 orang ke Banjar Dinas Telugtug. Warga Banjar Dinas Yeh Bunga dan Jungutan jumlah penduduk keseluruhan mencapai 1.400 baru mengungsi 324 orang ke Banjar Dinas Tri Wangsa. Sehingga, total warga yang saat ini masih dipengungsian Desa Sibetan sudah berjumlah 2.179 orang.

Sejak awal mengungsi warga di Desa Jungutan sudah difaslitasi relawan dengan truk-truk pengangkut. Sampai di beberapa lokasi pengungsian, relawan dari kelompok pemuda Kaum Kuzam Sibetan itu juga berupaya menyediakan tikar, selimut dan memfasilitasi para untuk kebutuhan MCK dan penanganan kesehatan. Bahkan, untuk logistik ribuan pengungsi ini juga disediakan, bekerja sama dengan beberapa elemen di Desa Adat Sibetan, seperti dengan kelompok Pecalang, Prajuru Adat dan tokoh masyarakat lainnya.

Baca juga:  Pengungsi Keluhkan Pasokan Elpiji Minim

Seperti yang nampak di lokasi pengungsian di Banjar Dinas Pengawan, relawan pemuda ini nampak sibuk menyediakan makanan layak secukupnya untuk para pengungsi. Mereka mengaku tergerak membantu, untuk meringankan beban warga yang nampak bingung dan cemas di lokasi pengungsian. “Semua ini, baik logistik dan kebutuhan lainnya sementara dibiayai dari desa adat,” kata Ketua Relawan Made Bheru, Kamis (21/9) malam, bersama puluhan relawan lainnya.

Upaya ini akan terus dilakukan selama para pengungsi berada di lokasi pengungsian di seluruh banjar dinas di Desa Sibetan. Tetapi, pihaknya sendiri belum tahu sampai kapan para pengungsi ini di lokasi pengungsian. Tetapi, pihaknya menegaskan akan terus membantu di lokasi pengungsian, sambil menunggu bantuan logistik lainnya datang dari Tim Gabungan Penanggulangan Bencana Gunung Agung.

Tokoh masyarakat setempat, Wayan Putu, SP., mengatakan dalam situasi tanggap darurat seperti ini, pemuda harus mengedepankan rasa kemanusiaan untuk membantu sesama. Terlebih, para pengungsi ini sebenarnya masih satu desa adat. Sebagaimana diketahui, Desa Adat Sibetan, terdiri dari dua desa dinas, yakni Desa Jungutan dengan Desa Sibetan.

Tidak hanya menangani pengungsi,relawan ini bahkan juga menangani evakuasi ternak warga yang selama ini membuat warga di lereng Gunung Agung enggan mengungsi. Ternak-ternak warga mayoritas berupa sapi itu diangkut oleh relawan dan dikumpulkan sementara di Setra Desa Sibetan. Kini jumlah hewan ternak sapinya sudah mencapai sekitar 50 ekor.

Selain membuat warga lebih ikhlas untuk mengungsi, upaya ini juga dilakukan untuk mencegah ternak warga dijual murah, lantaran situasi ini banyak dimanfaatkan oleh saudagar sapi yang membeli ternak warga dengan harga murah. Ketua Pecalang setempat, Wayan Darta mengapresiasi upaya pemuda untuk membentuk relawan dan membantu pengungsi. Ini salah satu contoh yang baik dalam situasi tanggap bencana. (bagiarta/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.