Sosialisasi mengenai Meningitis Streptococcus suis anjar Pengayehan Desa Gubug Tabanan.(BP/san)
TABANAN, BALIPOST.com – Sempat memakan olahan daging babi, berupa komoh babi, empat orang warga Tabanan diketahui menderita panas berhari-hari disertai gejala kaku pada tengkuk dan ada yang tidak bisa mendengar. Dari ciri-ciri ini, empat warga ini dinyatakan suspect Meningitis Streptococcus suis dan masih menunggu pemeriksaan laboratorium.

Adapun nama pasien adalah I Made Sutanaya (50) warga banjar Gubug Delodan Desa Gubug Tabanan, I Made Arimbawa (48) warga Desa Gadung Sari  Munduk Pakel Selemadeg Timur, I Gusti Putu Sujana (65) dan Nengah Mungkrik (60) warga Banjar Pengayehan Desa Gubug Tabanan.  Arimbawa dan Sutanaya dirawat di BRSUD Tabanan, Mungkrik mendapatkan perawatan di RS Wisma Prasanthi dan Sujana di RSUP Sanglah.

Kepala Bidang P2MPL Dinas Kesehatan Tabanan, dr. Ketut Nariana, MKes, Minggu (12/9) mengatakan, penularan diduga terjadi saat empat korban ini menikmati komoh babi di Banjar Pengayehan Desa Gubug Tabanan sekitar 13 hari lalu.

Empat warga ini kemudian menderita panas dan sempat dibawa berobat ke puskesmas. Namun karena tidak kunjung sembuh dan semakin parah akhirnya dibawa ke rumah sakit. Karena masuk rumah sakit inilah kasus ini akhirnya diketahui. BRSUD Tabanan kemudian melaporkannya ke Dinas Kesehatan Tabanan.

Adanya penemuan suspect Meningitis Streptococcus suis, tim yang terdiri dari Dinas Peternakan dan Dinas Kesehatan, Minggu (12/3) turun ke lokasi yang diduga awal terjadinya penularan. Selain melakukan sosialisasi mengenai  Streptococcus suis juga dilakukan pemberian obat pada babi yang masih hidup dilingkungan tersebut.

Baca juga:  Ini, Sejarah Temuan Kasus Streptococcosis di Bali

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Tabanan, drh. I Made Arya Putra menambahkan ada lima ekor babi yang diberikan pengobatan. Kelima babi tersebut memiliki riwayat satu kandang dengan babi yang diduga menularkan Meningitis Streptococcus suis.

‘’Babi yang dipotong kemudian dimasak sempat satu kandang dengan lima babi lainnya. Sehingga dilakukan pengobatan. Tetapi dari ciri fisik, babinya semua sehat,’’ ujar Arya.

Ia menegaskan bakteri Streptococcus suis menular antara babi lewat liur dan kotoran babi yang terinfeksi bakteri. Apabila termakan oleh babi lainnya maka bisa menginfeksi. Untuk itu sangat penting melakukan pemeliharan intensif pada babi terutama kebersihan dan sanitasi yang baik serta rutin melakukan penyemprotan disinektan setidaknya seminggu sekali.

Sementara dari babi ke manusia adalah lewat konsumsi olahan babi yang tidak matang. Sehingga agar aman mengkonsumsi olahan babi, ada baiknya memasak dengan suhu diatas 56 derajat celsius selama 30 menit.

Selain itu selalu cuci tangan saat membersihkan kandang, memberikan makan ataupun menyentuh daging babi dengan sabun adalah kunci penting. ‘’Intinya terapkan prilaku hidup bersih dan sehat,’’ paparnya. (wira sanjiwani/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.