dr. Ni Luh Gede Sukardiasih (kiri) dan I Made Dwi Dewata. (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Ajang Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas (ADUJAK) GenRe Bali 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan sekaligus mendorong lahirnya keluarga berkualitas di Bali. Para peserta yang terpilih nantinya diharapkan mampu membawa nama Bali dalam ajang ADUJAK GenRe tingkat nasional di Jakarta pada 21–22 September 2026.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, mengatakan proses pemilihan Duta GenRe Bali dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan perwakilan dari kabupaten/kota se-Bali.

“Ada perebutan piala bergilir Gubernur Bali. Jadi kita mempersiapkan Duta GenRe yang mewakili masing-masing kabupaten/kota secara berpasangan. Kemudian nanti pemenangnya akan mewakili Bali di ADUJAK Nasional tanggal 21 sampai 22 September di Jakarta,” ujarnya dalam acara Puncak Kegiatan ADUJAK Bali 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (12/8).

Menurut Sukardiasih, keberadaan Duta GenRe sangat strategis dalam meningkatkan kualitas generasi muda, terutama di tengah peluang bonus demografi. Jumlah penduduk usia produktif yang lebih besar dibandingkan kelompok usia nonproduktif harus dioptimalkan dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.

“Tujuannya tentu kita ingin meningkatkan kualitas remaja kita karena peluang bonus demografi. Kita tahu usia produktif itu jauh lebih tinggi dibandingkan yang nonproduktif, yang ketergantungan. Sehingga peluang ini harus kita optimalkan bagaimana generasi muda kita bisa berkualitas untuk mengisi pembangunan ini, terutama di Bali,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu tugas utama Duta GenRe adalah menjadi edukator bagi teman sebaya. Mereka menyampaikan pemahaman mengenai tiga hal yang harus dihindari remaja, yakni seks bebas, pernikahan usia dini, serta penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif.

Baca juga:  Tuntaskan 45 Km, Siswa SMARAK Bayar Kaul Push Up 15 Kali di Garis Finish

Selain itu, Duta GenRe juga memiliki peran dalam memberikan edukasi mengenai kesehatan reproduksi kepada remaja.

“Kita mengedukasi teman sebaya, terutama tentang menghindari seks bebas, menghindari pernikahan usia dini, menghindari narkoba dan napza. Yang tiga poin itu. Dan selanjutnya memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi,” jelasnya.

Peran Duta GenRe, lanjut Sukardiasih, kini juga dimanfaatkan oleh berbagai instansi pemerintah untuk menyampaikan edukasi kepada kalangan remaja. Salah satunya Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam sosialisasi mengenai bahaya narkoba.

Di tingkat Provinsi Bali, Duta GenRe juga dilibatkan untuk membantu pemerintah menyosialisasikan program KB Krama Bali. Program tersebut tidak hanya berbicara mengenai kuantitas penduduk, tetapi juga bagaimana membangun keluarga Bali yang berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan budaya dan adat.

Sukardiasih menyebutkan, peserta GenRe merupakan remaja yang belum menikah dengan rentang usia 15 hingga 24 tahun. Mereka dapat berasal dari jenjang SMP, SMA, hingga perguruan tinggi selama belum menikah.

Proses seleksi dilakukan di masing-masing kabupaten/kota dengan koordinator Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (OPDKB) setempat.

Menurutnya, pendekatan melalui sesama remaja dinilai penting karena generasi muda saat ini memiliki karakter yang cepat beradaptasi, kreatif, inovatif, serta memiliki kemauan belajar yang tinggi.

“Kita lihat yang sudah lulusan-lulusannya, alumni dari Forum GenRe ini, di beberapa tempat memang mengalami peningkatan kualitas yang lebih bagus,” ujarnya.

Duta GenRe juga diharapkan menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi ikut membangun kesadaran remaja mengenai perencanaan kehidupan berkeluarga.

Hal tersebut sejalan dengan program KB Krama Bali yang menurut Sukardiasih bertujuan mempertahankan sekaligus melestarikan budaya Bali. Namun, pelestarian budaya tersebut harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga:  Pecundangi Badung, Tim Voli Putra Gianyar Rebut Medali Emas

“Tidak bisa lepas hanya jumlah saja yang kita pikir, kualitasnya juga,” tegasnya.

Karena itu, remaja didorong untuk mulai merencanakan kehidupan berkeluarga sejak dini. Termasuk mempersiapkan diri agar ketika memasuki pernikahan sudah memiliki kesiapan fisik, mental, sosial, dan finansial.

Dalam edukasi GenRe, perencanaan usia perkawinan juga menjadi bagian penting. Perempuan dianjurkan menikah pada usia minimal 21 tahun dan laki-laki 25 tahun. Selain usia perkawinan, calon pasangan juga didorong merencanakan jumlah anak serta kesiapan menjadi orang tua.

“Jadi untuk perempuan 21, untuk laki-laki 25. Jangan menikah umur 18. Kita merencanakan, nanti kita mau punya anak berapa. Rencanakan dari sekarang. Jadi pada saat menikah itu sudah siap fisik, mental, sosial, dan finansial,” katanya.

Jaringan GenRe sendiri tidak hanya berada di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Di tingkat desa juga terdapat Duta GenRe yang menjadi bagian dari jejaring edukasi remaja. Duta GenRe kabupaten/kota turut berperan membina dan merangkul Duta GenRe desa.

Meski demikian, Sukardiasih menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan seberapa besar perubahan perilaku masyarakat akibat keberadaan Duta GenRe karena belum memiliki hasil survei khusus yang mengukur dampaknya.

“Kalau kita berbicara, tentu harus pakai data, survei data. Kita belum survei, nanti salah lagi,” ujarnya.

Ia berharap Duta GenRe Bali 2026 yang terpilih nantinya mampu membawa nama baik Bali pada ajang nasional. Apalagi, kiprah generasi muda Bali di tingkat nasional telah terlihat melalui keberadaan Ketua Forum GenRe Nasional yang berasal dari Tabanan.

Ia menyebut sosok tersebut sebagai contoh keberhasilan pembinaan GenRe di Bali. Selain menjalani pendidikan di Jakarta, yang bersangkutan juga bekerja di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta menjadi bagian dari upaya menyatukan Forum GenRe di seluruh Indonesia.

Baca juga:  Remaja Diduga Kubur Orok di Pekarangan Rumahnya

“Sekarang Ketua Forum GenRe Nasional orang Bali. Itu Arya dari Tabanan. Dia juga sudah contohnya sekarang bekerja sambil belajar di Jakarta, berkuliah. Sambil bekerja dia menjadi staf di Kemenpora. Dan dialah yang menjadi leading teman-teman menyatukan Forum GenRe di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (PMD Dukcapil) Provinsi Bali, I Made Dwi Dewata, menekankan pentingnya membangun keluarga berkualitas sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan masyarakat Bali.

Menurutnya, pembangunan kependudukan tidak semata-mata berkaitan dengan jumlah penduduk, tetapi juga kualitas generasi penerus yang akan menjaga seni, budaya, tradisi, dan adat Bali.

“Pada prinsipnya kita mempertahankan tradisi yang sudah kita miliki dari zaman dahulu. Jadi untuk mempertahankan seni budaya, kalau penduduknya berkurang, siapa lagi yang akan mempertahankan dan melestarikan?” katanya.

Ia mencontohkan berbagai aktivitas adat yang membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung. Jika tidak tersedia generasi penerus yang cukup, keberlangsungan kegiatan adat dan tradisi juga dapat menghadapi tantangan.

“Contoh megambel. Kan membutuhkan orang banyak. Kalau masyarakat kita tidak ada penerus, nanti mencari pengambel agak susah,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan kependudukan di Bali diarahkan pada dua kepentingan sekaligus, yakni membangun keluarga dan sumber daya manusia yang berkualitas serta memastikan tradisi, adat, dan budaya tetap memiliki generasi penerus.

“Sehingga inilah tujuannya, satu berkualitas dan kedua untuk mempertahankan tradisi dan adat. Karena adat itu merupakan akar, fondasi untuk kita kembangkan,” katanya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN