John de Santo. (BP/Istimewa)

Oleh John de Santo

Kaum remaja adalah penentu keberlangsungan peradaban manusia di muka bumi. Apabila mental mereka stabil, dunia akan stabil. Namun adanya berbagai persoalan yang dihadapi remaja saat ini, skenario ideal masih jauh dari kenyataan. Hari Remaja Internasional yang dirayakan pada 12 Agustus mengajak kita untuk menyadari berbagai krisis yang sedang mereka hadapi termasuk krisis panutan. Bagaiamana kita memaknai hari ini?

Hari Remaja dunia ini tahun ini secara khusus mengajak para remaja untuk bangkit, setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Para remaja telah mengalami sendiri, betapa kejamnya dampak pandemi yang memaksa mereka membatalkan kebiasaan bersekolah dan belajar bersama teman-teman dan guru dan menggantikannya dengan pembelajaran jarak jauh.

Tentu ada perasaan rindu setelah masa lockdown untuk kembali ke sekolah. Perasaan itu kini terpenuhi setelah dunia dinyatakan aman dari pandemi. Ada ketertigalan signifikan dalam hal proses belajar-belajar yang harus dikejar. Perlu ditinggalkan kebiasaan bangun tidur molor atau belajar di rumah sambil selonjoran. Maka, himbauan untuk bangkit kiranya tepat dalam menyambut masa normal pascapandemi ini.

Krisis Remaja

Dunia mengakui perlunya dukungan terhadap remaja, baik secara individu maupun kolektif, untuk menjaga keberlangsungan bumi ini di masa yang akan datang. Remaja membutuhkan berbagai upaya pendampingan agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks.

Baca juga:  Mencuri di 7 TKP, Remaja Putus Sekolah Dibekuk Polisi

Sebagaimana kita ketahui, masa remaja adalah masa yang sangat rentan terhadap berbagai krisisis. Ada pun berbagai persoalan yang mewarnai fase hidup ini. Berdasarkan survei sederhana, penulis mencatat lima persoalan yang lazim dihadapi para remaja dewasa in, yakni: Pertama, remaja menderita karena citra tubuh yang negatif (negative body image). Tiba-tiba mereka mengalami perubahan fisik sebagai dampak masa pubertas. Sebagai contoh, tiba-tiba merasa lengan mereka lebih panjang dari pada tungkai; remaja pria mengalami mimpi basah dan remaja perempuan mengalami menstruasi. Perubahan-perubahan fisik ini berdampak terhadap kondisi mental. Mereka kaget, takut, gelisah dan menjadi kurang percaya diri.

Kedua, akibat krisis di atas, para remaja butuh sistem pendukung (support system) dari keluarga, bahkan dari lingkungan di luar keluarga. Dalam perspektif ini, Ki Hadjar Dewantara menempatkan tanggung jawab pendidikan remaja tidak hanya pada keluarga, melainkan juga sekolah dan masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan remaja adalah tanggung jawab bersama.

Ketiga, remaja mengalami stress dan kesulitan dalam menentukan skala prioritas dan mengelola waktu. Kondisi ini membuat mereka terlihat malas, kurang inisitif dan motivasi. Mereka merasa masih memiliki watu hidup yang panjang dan terlena dengan berbagai hiburan dan godaan yang sedang mereka hadapi. Tanpa bimbingan orang dewasa, mereka akan kehilangan orientasi masa depan.

Baca juga:  Prihatin Remaja Trek-trekan di Tengah COVID-19, Ortu Diminta Awasi Anaknya

Keempat, sangat mungkin remaja merasa tertekan akibat tuntutan orangtua, masyarakat, bahkan tekanan teman sebaya (peer pressure). Akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri terhadap berbagai ekspektasi yang mungkin saling bertentangan dari masing-masing kelompok itu. Sebagai contoh, orangtua mewanti-wanti bahwa merokok itu tidak baik, namun sebagai anggota geng sekolah misalnya, merokok merupakan syarat agar diterima kelompok dan tidak dicap “banci” atau “anak mami”.

Kelima, akibat berbagai tekanan dan kondisi mereka yang terpapar kekerasan dan berbagai tayangan wahana media sosial, para remaja menjadi rentan terhadap berbagai persoalan fisik dan mental. Untuk keluar dari berbagai tekanan itu, sebagian dari mereka melakukan pelarian kepada alkohol, narkoba, pergaulan bebas  bahkan upaya bunuh diri.

Tokoh Panutan

Ketika remaja tumbuh dewasa, mereka membutuhkan orang lain untuk menunjukkan mereka cara menanggapi berbagai persoalan dan tantangan hidup. Mereka belajar tentang berbagai strategi untuk meraih tujuan, termasuk sikap dan perilaku yang diterima oleh masyarakat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manusia belajar dengan meniru orang lain. Hal ini khususnya berlaku selama masa remaja, ketika orang berjuang untuk mengembangkan identitas diri yang terpisah dari orangtua mereka. Biasanya yang menjadi panutan remaja adalah orang-orang dengan kualitas yang menonjol, termasuk kemampuan untuk menginspirasi, menunjukkan nilai-nilai positif, melayani masyarakat, tidak ingat diri dan mampu mengatasi berbagai tantangan hidup.

Baca juga:  Perjanjian Kawin, Titik Temu Politik Agraria

Namun demikian, kita perlu ingat bahwa panutan itu seperti pisau bermata dua, ia bisa berdampak positif atau negatif terhadap remaja, bergantung kepada kemampuan mereka untuk mencerna dan menafsirnya.

Dalam hal ini, berlaku kisah klasik mengenai dua saudara kembar yang memiliki seorang ayah pemabuk dan menelantarkan keluarga. Si A menjadi seorang pebisnis yang berhasil dan hidup bahagia bersama keluarga kecilnya, sedangkan si B menjadi seperti ayahnya yang pemabuk, menelantarkan keluarga dan bercerai. Ketika ditanyai mengapa mereka menjadi seperti itu. Keduanya sama-sama menjawab, “itu karena ayah”. Meskipun keduanya memiliki panutan yang sama, si A memilih untuk tidak menjadi seperti ayahnya, sedangkan si B memilih menjadi seperti ayahnya.

Nah, di hari Remaja Internasional ini, para remaja Indonesia yang akan mengisi bonus demografi, perlu mendapatkan bimbingan yang cukup dari orangtua, sekolah dan masyarakat, agar mereka mampu menginterpretasi berbagai pengalaman di sekitar mereka, dalam rangka menjadi pribadi yang dewasa, matang, sehat dan cerdas. Hanya dengan begitu, mereka mampu hidup bahagia sambil memberi kontribusi positif terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Penulis, pengasuh Rumah Belajar Bhinneka, berdomisili di Yogyakarta.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *