
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjelang pelaksanaan Hari Suci Nyepi Caka 1948, Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali, Sabtu (7/3) melaksanakan Gelar Agung Pecalang se-Bali 2026, di Lapangan Puputan Margarana Niti Mandala Renon Denpasar. Sekitar sepuluh ribu lebih pecalang dipastikan hadir untuk menunjukkan kesiapsiagaan menjaga kesucian, ketertiban dan kesakralan pelaksanaan Catur Brata Penyepian.
Kepastian kehadiran belasan ribu Pecalang disampaikan Ketua Panitia Pelaksana Gelar Agung Pecalang se-Bali 2026 I Gede Nurjaya, ditemui saat acara gladi Gelar Agung di Lapangan Puputan Margarana Renon, Jumat (6/3). “Berdasarkan data yang masuk hingga hari ini, sudah ada sepuluh ribu lebih pecalang se-Bali yang siap hadir. Jumlahnya masih sangat mungkin akan terus bertambah,” kata Nurjaya.
Menurut mantan Camat Kuta ini, setiap desa adat diminta mengirimkan masing-masing 15 orang pecalang. Sedangkan menurut data di MDA Bali, jumlah Pecalang berada di kisaran lebih dari 24 ribu orang .
Lebih lanjut, mantan Kadis Pariwisata Bali ini mengatakan Gelar Agung Pecalang menjadi agenda rutin menjelang pelaksanaan Hari Suci Nyepi untuk menunjukkan kesiapsiagaan mengamankan dan menjaga ketertiban pelaksana Catur Berata Penyepian. “Gelar Agung Pecalang se Bali ini sebagai bentuk kesiapan dan sinergi pacalang Bali dalam mengamankan pelaksanaan Catur Brata Penyepian di wewidangan desa Adat,” katanya.
Gelar Agung Pecalang menurut Nurjaya akan dipimpin Gubernur Bali yang bertindak sebagai Manggala Utama Gelar Agung. Sementara undangan berasal dari seluruh instansi mulai dari Forkompinda, Bupati/walikota se-Bali dan lembaga-lembaga terkait.
Sementara itu, Bandesa Agung MDA Provinsi Bali, Ida Panglingsir Agung putra Sukahet mengatakan, peran Pecalang sangatlah vital dalam menjaga kesakralan Hari Suci Nyepi. Kesakralan dan kesucian Nyepi karena merupakan bentuk penghormatan kepada semesta alam dan semua mahluk.
Karena itu, Hari Suci Nyepi terutama di Bali semestinya wajib dihormati setiap warga. “Setiap orang mestinya ikut menjaga Hari Suci Nyepi. Jangan sampai ada yang menodainya,” tegasnya.
Dalam pelaksanaan Catur Berata Penyepian tahun 2026 yang beririsan dengan pelaksanaan malam takbiran bagi umat Islam, Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet menekankan agar Seruan Bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat dipakai acuan.
Diingatkan bahwa pelaksanaan takbiran diperbolehkan dengan sejumlah ketentuan. “Intinya, pelaksanaanya jangan sampai menodai Catur Brata Penyepian,” tegasnya. Para Pecalang di masing-masing desa adat juga diminta melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, mengantisipasi potensi gesekan yang mungkin terjadi.
Manggala Pasikian Pacalang MDA Provinsi Bali yang baru beberapa waktu lalu terpilih, Brigjen (Pol) Dewa Bagus Made Suharya menegaskan komitmen Pecalang se-Bali akan menjaga ketertiban pelaksanaan Catur Berata Penyepian tahun ini. Suharya optimistis pecalang Bali akan semakin solid dalam menjaga keamanan berbasis kearifan lokal, terutama menjelang berbagai agenda adat dan keagamaan besar di Bali.
Ia menegaskan, pecalang harus bekerja secara profesional, terkoordinasi, dan tetap berlandaskan nilai-nilai adat Bali.
“Yang terpenting adalah bagaimana pecalang mampu menjalankan tugas dengan profesionalitas yang dibutuhkan, tetap berpegang pada adat, dan hadir memberi rasa aman bagi masyarakat,” pungkasnya. (Winata Nyoman/balipost)










