Belasan ribu pecalang hadiri Gelar Agung Pecalang Bali 2026, di Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Renon, Sabtu (7/3). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Belasan ribu pecalang dari seluruh Bali memadati Lapangan Puputan Margarana, Niti Mandala Renon, Denpasar, pada acara Gelar Agung Pecalang Bali Tahun 2026, Sabtu (7/3). Kehadiran mereka dalam satu momentum tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi jajaran Pasikian Pecalang Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali.

Manggala Pasikian Pecalang MDA Provinsi Bali, Brigjen Pol (Purn) Dewa Bagus Made Suharya, mengaku terharu melihat semangat para pecalang yang datang dari berbagai desa adat di Bali.

“Saya sampai tidak bisa berkata-kata. Bangga sekali melihat warga kita yang datang dengan semangat ngayah untuk desa adatnya. Hari ini sekitar 14 ribu pecalang hadir dari seluruh Bali,” ujarnya saat ditemui usai acara.

Baca juga:  Propam Sweeping Rutan Polresta

Menurutnya, pecalang yang selama ini dikenal sebagai pengaman kegiatan adat akan terus diperkuat secara kelembagaan. Ke depan, MDA Bali berencana melakukan penataan agar struktur organisasi, fungsi, serta kapasitas masing-masing pecalang semakin jelas.

Penataan tersebut juga akan diikuti dengan program peningkatan kapasitas melalui pelatihan bagi pecalang di seluruh kabupaten di Bali. “Kami akan datang ke kabupaten-kabupaten untuk melakukan pembinaan. Program pelatihan pecalang menjadi salah satu prioritas utama agar kemampuan mereka semakin baik dalam menjalankan tugas,” jelasnya.

Baca juga:  Pelaku Penusuk Pecalang Ditangkap

Ia menegaskan bahwa tugas utama pecalang sejatinya adalah memberikan pelayanan, pengayoman, dan pembimbingan kepada masyarakat di desa adat. Karena itu, peningkatan kapasitas dinilai penting agar pecalang mampu menjalankan perannya secara profesional namun tetap berlandaskan nilai adat dan budaya Bali.

Saat ini, dari sekitar 1.500 desa adat di Bali, jumlah pecalang yang telah terdata mencapai lebih dari 24 ribu orang. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah.

Menjelang Hari Suci Nyepi yang tahun ini berdekatan dengan malam takbiran Idul Fitri, Suharya mengajak seluruh masyarakat Bali untuk menjaga rasa kebersamaan dan toleransi.

Baca juga:  Masyarakat Lokal Prioritas Hadiri Upacara HUT RI di IKN

Menurutnya, Bali akan menghadapi dua momentum sakral yang waktunya hampir bersamaan, sehingga diperlukan saling pengertian antarumat beragama.

“Kita semua punya tanggung jawab menjaga Bali tetap aman. Tidak hanya pecalang, tapi seluruh masyarakat yang hidup di Bali, apa pun keyakinannya,” katanya.

Ia juga mengimbau agar pelaksanaan takbiran maupun aktivitas ibadah selama Nyepi dilakukan dengan penuh kearifan dan saling menghormati.

“Kita harapkan semuanya dilaksanakan dengan arif. Ketika umat Hindu menjalankan Nyepi, dan umat Muslim merayakan Idulfitri, mari sama-sama menjaga keharmonisan agar Bali tetap aman dan damai,” tegasnya. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN