Prajuru desa adat diminta kritis terhadap investasi berpotenai rusak alam lingkungan dan budaya yang masuk ke wewengkon desa adat. (BP/ata)

DENPASAR, BALIPOST.com – Tantangan yang dihadapi desa adat kian berat di era modernisasi dan kemajuan perekonomian yang cenderung kapitalistik. Terbukti dengan banyaknya investasi sektor pariwisata yang mengincar wilayah desa adat.

Untuk itu, prajuru desa adat diminta kritis terhadap masuknya investasi yang berpotensi merusak alam, mengingat seluruh wilayah di Bali terbagi habis menjadi wewengkon desa adat.

Hal tersebut ditegaskan Petengen Agung Majelis Desa Adat (MDA) Bali Dr. Ir. I Gusti Putu Anindya Putra saat menjadi narasumber dalam peningkatan kapasitas prajuru Panca Angga MDA Denpasar dan Tri Angga MDA se-kecamatan Denpasar, Rabu (10/6) di Gedung MDA Denpasar.

Baca juga:  SIM Keliling di Bali 23 Oktober 2025, Cek Lokasinya

Menurut Anindya Putra, Bali dalam dua puluh tahun kedepan oleh pemerintah pusat memang dirancang menjadi superhub sektor pariwisata internasional. “Ini berarti Bali memang dirancang untuk menjadi wilayah yang diincar investor industri pariwisata,” katanya. Berbagai infrastruktur pendukung investasi juga telah direncanakan mulai dari bandara udara di Bali Utara hingga Tol Gilimanuk Mengwi.

Derasnya investasi yang masuk Bali perlu diwaspadai oleh prajuru desa adat. “Prajuru Desa adat di Bali umumnya dan Denpasar khusunya perlu kritis dan mewaspadi investasi yang masuk ke wewengkon desa adatnya. Jangan sampai desa adat hanya menjadi obyek proyek investasi yang justru berpotensi merusak alam dan budaya Bali,” tegasnya.

Baca juga:  Perda Bendega dan Desa Adat Tumpang Tindih, Rentan Picu Konflik

Prajuru desa adat diminta untuk ikut aktif dalam proses pembangunan di wilayah masing-masing. “Ingat, bahwa seluruh wilayah di Bali menjadi wewengkon desa adat. Tidak ada sejengkalpun wilayah yang tidak masuk wewengkon desa adat,” ujarnya.

Sementara itu, Penyarikan Agung MDA Provinsi Bali, Dr. I Dewa Rai Asmara Putra, mengatakan enam tahun sejak mulai berlaku, kedudukan dan memberikan pengayoman kepada Desa.Adat menghadapi tantangan dari luar dan dari dalam. Yang paling berat menghadapi tantangan dari dalam.

Menurut Dewa Rai, ada banyak yang tidak senang dengan desa adat. Diperlukan rasa persatuan dan persaudaraan di antara seluruh desa adat di Bali. “Marilah kita bersatu di MDA. Menyatukan desa adat se Bali dalam menghadapi tantangan,” kata Dewa Rai.

Baca juga:  Perjalanan Wisatawan Nusantara Ditargetkan Sebanyak 1,4 Miliar

Peningkatan kapasitas yang dilaksanakan MDA Bali di Denpasar menjadi rangkaian terakhir dari seluruh kabupaten dan kota di Bali. Diharapkan hasil dari peningkatan kapasitas berupa ToT, para prajuru Panca dan Tri Angga MDA di Denpasar dapat memperkuat tata kelola desa adat. Akhirnya desa adat menjadi semakin kuat dan maju di tengah tantangan yang kian berat. (Nyoman Winata/balipost)

BAGIKAN