
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Setelah 63 tahun, tepatnya tahun 1963, Desa Adat Tegalwangi, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, sempat gelar Karya Agung. Kini di tahun 2026, krama Desa Adat Tegalwangi kembali gelar Karya Agung Mamungkah Nubung Pedagingan Ngenteg Linggih Mapadudusan Agung Mapahayu Jagat lan Maparisudha Bhumi. Puncak karya berlangsung di Pura Puseh, Bale Agung dan Masceti (Pura dalam satu areal) Desa Adat Tegalwangi, pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu 27 Juni 2026.
Bendesa Adat Tegalwangi, I Ketut Dibiya mengatakan, dalam menyongsong karya agung ini, masyarakat/krama adat Tegalwangi sudah mempersiapkan sejak beberapa bulan lalu. Salah satunya matur piuning lan nyukat genah pada Senin (20/4), dan serangkaian karya agung lainnya mencapai 26 rangkaian penting. Puncak karya pada Saniscara Kliwon Kuningan atau bertepatan dengan Hari Raya Kuningan, Sabtu (27/6).
Puncak karya yakni pengenteg, pengebek, pengodal dipuput 3 Pedanda. Peselang dipuput 2 Pedanda. Memutru, peselang dipuput 3 orang sulinggih dan pedanan dipuput 1 orang sulinggih. Untuk selanjutnya digelar bhakti penganyar, nyenuk, mekebat dan mangun ayu.
Bendesa Adat menambahkan, rangkaian karya agung ini menggunakan hewan atau sato diantaranya kerbau, penyu, kambing, anjing, banteng, babi hitam, bebek, ayam dan sejumlah lainnya. Terakhir metirtayatra dan meajar ajar ke Tirta Empul, Tampaksiring dan Pura Goa Lawah, Dawan pada Sabtu (11/7).
Secara umum eedan/dudonan atau kegiatan karya agung dibagi menjadi 26 bagian. Salah satunya Tawur Panca Sanak, Rsi Gana, Mlaspas, Mendem Pedagingan, Masupati Pralingga dan Karya Pengingkup pada Redite Wage Kuningan, Minggu 21 Juni 2026 dan di puput tiga orang sulinggih masing-masing Ida Pedanda Gede Rai Putra dari Geria Gede Bakas, Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana dan Ida Rsi Bujangga Angkling.
Sedangkan Melasti, Mahayu Jagat Marisudha Bhumi, Memendak, Memasar pada Buda Paing Kuningan, Rabu 24 Juni 2026 dipuput sejumlah orang sulinggih Siwa dan Budha. Sedangkan Puncak Karya berlangsung di Pura Puseh,Bale Agung dan Masceti berlangsung Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu 27 Juni 2026 dipuput Sulinggih Siwa, Budha dan Ida Dalem Semarapura (Nodya).
Puncak karya saat upacara pengenteg, pengebek danu pengodal dipuput Ida Pedanda Istri Mayun (Geria Gede Aan) dan Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana. Saat upacara peselang dipuput Ida Pedanda Gede Putra Keniten (Geria Anyar Bakas) dan Ida Pedanda Gede Swabawa Karang Adnyana.
Saat upacara mamutru/majejiwaan dipuput
Ida Pedanda Istri Oka (Geria Kulon Aan); Ida Pedanda Istri Oka Diatmika (Geria Gede Bakas); Ida Pedanda Istri Rai Keniten (Geria Gede Tegalwangi). Saat upacara Pedanan dipuput Ida Pedanda Made Ngenjung (Geria Gede Tegalwangi).
Setelah itu, selama 10 hari digelar ngaturang bhakti pengayar. Sedangkan Rsi Bhojana, Nyineb, mendem bagia pula kerthi dan ngaturang jauman pada Buda Manis Medangsia, Rabu 8 Juli 2026 dan puput dua orang sulinggih. Serta terakhir metirta yatra dan meajar-ajar ke Pura Tirta Empul, Tampaksiring, Gianyar dan Goa Lawah, Dawan, Klungkung pada Saniscara Wage Medangsia, Sabtu 11 Juli 2026 dipuput Ida Pedanda Made Ngenjung (Geria Gede Tegalwangi).
Seorang tokoh umat Hindu, Dewa Soma menambahkan dasar atau alasan digelar karya agung diantaranya karena pembangunan pura atau palinggih baru, sudah ada bangunan tapi direnovasi karena palinggih pura kena bencana seperti disambar petir, kebakaran, longsor dan sebagainya karena belum pernah digelar karya sebelumnya karena kemauan pengempon pura. Alasan lain karena sudah lama sempat digelar karya. (Agung Yuliantara/balipost)










