Wisatawan menikmati panorama DTW Ulun Danu Beratan. (BP/istimewa)

 

SINGASANA, BALIPOST.com – Di tengah berbagai tantangan industri pariwisata akibat dinamika ekonomi dan isu global, sejumlah destinasi wisata di Kabupaten Tabanan tengah menyiapkan berbagai atraksi budaya untuk mendongkrak kunjungan wisatawan selama libur panjang. Salah satunya dilakukan pengelola DTW Ulun Danu Beratan, desa Candikuning, Baturiti melalui penyelenggaraan Festival Gebogan.

Festival yang telah menjadi salah satu ciri khas atraksi budaya di DTW Ulun Danu Beratan ini akan kembali ditampilkan tahun ini. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 21 Juni hingga 9 Agustus dan melibatkan 20 desa adat di Kecamatan Baturiti. Festival bertajuk Dharma Santi Mahotsava, “Merajut Persatuan Melalui Seni dan Tradisi” itu diharapkan tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya, namun juga mampu menarik minat wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bedugul selama musim liburan.

Baca juga:  RSUD Buleleng Dirancang Menjadi Rumah Sakit Rujukan Regional Nasional

Humas DTW Ulun Danu Beratan, Agus Teja Saputra mengatakan, Festival Gebogan sudah menjadi agenda rutin yang memang dinanti wisatawan. Bahkan tidak sedikit wisatawan maupun biro perjalanan yang menyesuaikan jadwal kunjungan mereka dengan pelaksanaan festival tersebut.

“Banyak biro perjalanan atau travel agen yang menanyakan waktu pasti Festival Gebogan ini untuk menyesuaikan jadwal kunjungan tamu,” ucapnya, Minggu (14/6).

Ada juga wisatawan yang sengaja datang saat jadwal festival berlangsung karena ingin melihat langsung keunikan tradisi masyarakat Bali. Dibandingkan dengan pelaksanaan tahun sebelumnya, pada festival tahun ini, para peserta dari setiap desa akan menampilkan gebogan yang disusun dari buah-buahan, bunga dan berbagai komoditas lokal khas wilayah Baturiti.

Penggunaan bahan lokal akan menjadi salah satu poin penting dalam penilaian karena sekaligus menjadi sarana promosi hasil pertanian masyarakat setempat.

Baca juga:  5 Berita Koran Bali Post Terbit Hari Ini, Selasa 3 Februari 2026

“Gebogan ini nantinya akan dinilai, yang gunakan bahan komoditi lokal tentu dapat nilai plus dan nanti akan dipilih empat juara yang nantinya kembali ditampilkan saat acara penutupan festival,” jelasnya.

Perbedaan dengan pelaksanaan festival sebelumnya, tahun ini wisatawan diberikan kesempatan untuk menyaksikan langsung proses metanding atau penataan gebogan selama satu hari. Setelah proses tersebut dan penilaian selesai dilakukan, gebogan kemudian diparadekan pada hari berikutnya sehingga pengunjung dapat menikmati seluruh tahapan tradisi secara utuh. “Jadi antara membuat gebogan dan parade itu berselang sehari,” ucapnya.

Selain parade gebogan, masing-masing desa adat juga akan menampilkan fragmentari yang mengangkat tema budaya sesuai karakteristik desa masing-masing. Festival juga turut dimeriahkan pertunjukan tari kecak dan barong oleh Sanggar Seni Ulun Danu.

Baca juga:  Berharap Presiden Alokasikan Dana Desa Adat

Selama penyelenggaraan festival, pertunjukan seni digelar setiap hari mulai pukul 12.30 WITA dan dibagi di dua lokasi. Untuk hari Senin hingga Kamis kegiatan berlangsung di kawasan DTW Ulun Danu Beratan, sedangkan Jumat hingga Minggu dipusatkan di kawasan The Blooms Garden.

Menurut Agus, pengalaman penyelenggaraan festival sebelumnya menunjukkan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan. Di kawasan The Blooms Garden misalnya, terjadi peningkatan kunjungan sekitar 20 persen saat festival berlangsung. Sementara, kunjungan ke DTW Ulun Danu Beratan juga mengalami peningkatan meskipun bersifat fluktuatif. “Kami harapkan kunjungan wisatawan bisa meningkat, kalau untuk asing saat ini masih didominasi dari India,” pungkasnya. (Puspawati/balipost)

 

BAGIKAN