
DENPASAR, BALIPOST.com – Wacana larangan promosi Hari Raya Nyepi sebagai paket liburan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali memantik tanggapan dari kalangan perhotelan. Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya, menilai promosi tersebut perlu dilihat secara proporsional.
Menurutnya, hotel tidak pernah “menjual” ritual Nyepi, melainkan menawarkan layanan menginap bagi tamu yang kebetulan berada di Bali saat Hari Suci tersebut.
“Hotel kan hanya menyediakan kamar bagi tamu yang ingin menginap saat Nyepi. Bukan berarti merayakan atau mengganggu pelaksanaan Nyepi itu sendiri,” ujarnya saat diwawancara di The Meru Sanur, Sabtu (28/2).
Ia menegaskan, selama operasional hotel mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Majelis Desa Adat (MDA) Bali, seperti pembatasan aktivitas, tidak menyalakan lampu berlebihan, serta menghormati Catur Brata Penyepian (Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelampahan), maka tidak ada persoalan.
“Justru menurut saya bagus kalau semua bisa tertib mengikuti aturan. Yang penting memenuhi ketentuan yang berlaku selama Nyepi,” katanya.
Suryawijaya juga menepis anggapan bahwa wisatawan sengaja datang ke Bali untuk menikmati Nyepi sebagai momentum wisata. “Selama ini tamu datang bukan karena Nyepi. Biasanya mereka sudah merencanakan liburan dua minggu, lalu kebetulan ada Hari Raya Nyepi,” jelasnya.
Bahkan, kata dia, tidak sedikit wisatawan yang memilih meninggalkan Bali sehari sebelum Nyepi untuk menghindari suasana hening total. Beberapa di antaranya beralih ke destinasi seperti Gili Trawangan, Labuan Bajo, atau Yogyakarta. “Ada yang pindah ke luar Bali karena merasa terkekang satu malam lebih. Jadi tidak benar kalau Nyepi itu dijadikan momentum utama untuk menarik wisatawan,” tegasnya.
Persoalan utama, lanjutnya, adalah penggunaan nama “Nyepi” dalam paket promosi hotel. FKUB Bali disebut melarang penggunaan istilah tersebut agar tidak terkesan mengomersialkan hari suci umat Hindu yang hanya ada di Bali dan menjadi satu-satunya di dunia.
Suryawijaya memahami sensitivitas tersebut, namun ia juga melihat sisi lain bahwa promosi yang tepat justru dapat memperkenalkan nilai introspeksi dan keheningan Nyepi kepada dunia.
“Nyepi ini unik, hanya ada di Bali. Kalau dipromosikan secara positif sebagai hari untuk refleksi dan evaluasi diri, itu kan bagus,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak tamu hotel saat Nyepi justru merupakan warga non-Hindu yang sudah tinggal lama di Bali dan memilih tetap berada di dalam hotel agar tidak melanggar aturan adat di luar. “Bukan untuk merayakan, tapi supaya mereka tetap bisa menghormati aturan tanpa harus bepergian jauh,” katanya.
Pihaknya berharap polemik ini dapat disikapi dengan dialog bersama antara pelaku pariwisata, tokoh agama, dan pemerintah daerah, sehingga kesucian Nyepi tetap terjaga tanpa menimbulkan dampak negatif bagi sektor pariwisata Bali. (Ketut Winata/balipost)










