
SINGARAJA, BALIPOST.com – Guna meningkatkan kreativitas sekaligus memperkuat kebersamaan yowana, Desa Adat Buleleng kembali menggelar Pengerupukan Festival II, dalam rangka menyambut Hari Suci Nyepi Tahun 2026/1948 Saka. Berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya, festival tahun ini tidak dikemas dalam bentuk lomba, melainkan parade ogoh-ogoh.
Perubahan konsep tersebut merupakan hasil kesepakatan yowana Desa Adat Buleleng. Melalui parade, pelaksanaan festival diharapkan lebih menekankan nilai kebersamaan antar yowana dari 14 banjar adat, sekaligus memberikan ruang berekspresi tanpa tekanan kompetisi.
Kelian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, Selasa (20/1), mengatakan Pengerupukan Festival II sepenuhnya melibatkan yowana, baik sebagai peserta parade maupun dalam kepanitiaan. Hal ini menjadi bentuk dukungan desa adat terhadap kreativitas generasi muda.“Tahun ini kami adakan parade ogoh-ogoh dengan branding yang sama, yakni Pengerupukan Festival II. Kami membebaskan yowana untuk berekspresi. Bahkan ogoh-ogoh anak-anak juga diperbolehkan ikut parade,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setiap banjar adat akan menampilkan maksimal lima ogoh-ogoh yang menjadi tanggung jawab masing-masing banjar. Dengan konsep parade, seluruh karya dapat ditampilkan tanpa harus dinilai atau diperingkatkan.
Mantan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Buleleng tersebut menambahkan, pihaknya berharap Pengerupukan Festival Desa Adat Buleleng ke depan dapat masuk dalam agenda Kharisma Event Nusantara (KEN). Untuk mewujudkan hal tersebut, sinergi dengan pemerintah daerah terus diperkuat.
“Kami bersinergi dengan pemerintah daerah, khususnya Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata. Pada Pengerupukan Festival pertama, kegiatan ini sempat disaksikan langsung oleh Ibu Wakil Menteri Luh Puspa. Kami berharap tahun ini beliau bisa hadir kembali, dan ke depannya festival ini dapat masuk dalam agenda KEN,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma Oktiva Askara, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan Pengerupukan Festival Desa Adat Buleleng. Menurutnya, festival ogoh-ogoh tersebut memiliki potensi besar untuk masuk dalam agenda event nasional.
“Festival ini berpotensi masuk dalam agenda KEN. Namun ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, salah satunya festival tersebut minimal sudah digelar sebanyak tiga kali,” jelasnya. (Yudha/balipost)









