
DENPASAR, BALIPOST.com – Rahina Tumpek Krulut sebagai hari tresna asih atau hari kasih sayang yang diinisiasi oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, merupakan langkah strategis dan visioner dalam menguatkan nilai-nilai kearifan lokal Bali di tengah arus globalisasi budaya. Demikian disampaikan Akademisi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Dr. Drs. I Gusti Ketut Widana, M.Si., Jumat (2/1).
Kebijakan tersebut telah dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi Dalam Bali Era Baru. Melalui surat edaran tersebut, Gubernur Bali mengimbau seluruh masyarakat Bali untuk melaksanakan perayaan Rahina Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon, Wuku Krulut, baik secara niskala maupun sekala.
“Selama ini sebagian masyarakat Bali turut merayakan Valentine Day setiap tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang, yang sejatinya bukan merupakan budaya Bali. Sudah saatnya kita merayakan hari tresna asih pada Rahina Tumpek Krulut yang merupakan warisan adiluhung leluhur Bali, untuk dilestarikan, disosialisasikan, dan dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat,” jelas Widana.
Menurutnya, jika merujuk pada teks Lontar Prakempa dan Aji Gurnita, rerainan Tumpek Krulut pada hakikatnya merupakan hari “Otonan Sarwa Tetangguran”, yang berkaitan dengan keindahan suara bunyi-bunyian yang bersumber dari gamelan atau gong. Tumpek Krulut juga dikenal sebagai “Otonan Gong”, yakni momentum pemujaan dan penghormatan kepada Ida Sang Hyang Iswara, Dewa Kesenian.
“Melalui penyucian instrumen gamelan, umat Hindu diharapkan memperoleh hiburan rohani, rasa senang, kebahagiaan lahir batin, serta ketenteraman jiwa. Alunan merdu tetabuhan yang ditabuh dengan penuh taksu mampu membawa pendengar ke alam kalangwan, kedaut ngelangenin, hanyut dalam rasa haru, kagum, dan bahagia,” paparnya.
Lebih lanjut, Widana menilai bahwa dengan mensinergikan makna Tumpek Krulut sebagai hari pemuliaan seni dan sebagai hari tresna asih, ditemukan titik temu yang kuat secara teologis, filosofis, estetis, dan etis. Ritual Tumpek Krulut sejatinya merupakan upaya mengharmonikan keindahan dalam rasa cinta.
“Cinta yang dimaksud bukanlah cinta dalam konteks pemenuhan hasrat biologis atau duniawi, melainkan kesadaran untuk saling mencintai dan mengasihi antarsesama manusia, atau yang disebut ngelilitang lulut,” tegasnya.
Ia menjelaskan, ngelilitang lulut bermakna menjalin rasa tresna asih yang tulus, bukan kamuflase cinta yang dibungkus sensasi fantasi dan hedonisme duniawi. Sebaliknya, cinta kasih harus diwujudkan melalui tindakan nyata yang indah, bermartabat, dan membawa berkah bagi sesama, bukan justru menimbulkan masalah atau musibah.
Cinta Sejati Tak Kenal Tawar-menawar
Dalam konteks tersebut, Widana mengutip pemikiran filosof Hindu dunia, Swami Vivekananda, yang menyatakan bahwa cinta sejati tidak mengenal tawar-menawar atau pamrih.
“Jika cinta dilakukan untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasan, maka itu bukan cinta, melainkan transaksi,” ujarnya, mengutip Vivekananda.
Ia juga mengingatkan pandangan filsuf Teilhard de Chardin yang menyebut cinta sebagai daya kosmis paling universal dan misterius, sehingga manusia terus terdorong untuk mencari, memahami, dan menikmati keindahan cinta sebagai anugerah Tuhan.
Menurut Widana, implementasi nilai Tumpek Krulut dapat dilakukan secara sederhana, alamiah, dan kontekstual, tidak semata-mata melalui ritual, tetapi dengan mentransformasikan simbol dan maknanya ke dalam perilaku sosial sehari-hari.
“Prinsipnya adalah gumaweaken sukanikanang wong len—membuat orang lain merasakan kebahagiaan. Taglinenya bisa dirumuskan sebagai berbagi cinta dengan penuh keindahan, atau indahnya saling berbagi kasih,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemahaman inilah yang perlu terus disosialisasikan kepada umat Hindu agar pelaksanaan Tumpek Krulut tidak berhenti pada ritualitas yang bersifat kuantitatif, tetapi benar-benar memberikan dampak positif, konstruktif, dan memperkuat solidaritas sosial.
“Tumpek Krulut harus menjadi momentum pemuliaan hidup berbasis cinta kasih yang berkeadaban, selaras dengan nilai-nilai Sad Kerthi dan visi Bali Era Baru,” pungkas I Gusti Ketut Widana.
Bentuk Nyata Pemaknaan Ritual Tumpek
Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buleleng, yang juga Akademisi Hindu, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., menegaskan bahwa Hari Raya Tumpek Krulut sebagai Rahina Tresna Asih merupakan bentuk nyata dari pemaknaan ritual Tumpek dalam kehidupan umat Hindu, khususnya di Bali. Tumpek Krulut tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan upacara keagamaan semata, tetapi juga harus diwujudkan melalui tindakan nyata cinta kasih dan saling menyayangi terhadap seluruh makhluk hidup.
Terlebih lagi, Tumpek Krulut diawal tahun ini bertepatan dengan purnama sasih kapitu.
“Artinya tumpek krulut ini nadi. Itulah yang perlu dimaknai lebih jauh bahwa kasih sayang mutlak kita wujud nyatakan kini. Kasih sayang kepada alam karena kita sudah diingatkan dengan berbagai bencana di akhir tahun, kasih sayang sesama manusia dengan meningkatnya kasus bunuh diri, dan menguatkan srafha bhakti kita kepada tuhan untuk keharmonisan,” ujarnya, Jumat (2/1).
Kadek Satria menjelaskan Tumpek Krulut berasal dari nama wuku Krulut dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali. Kata krulut berakar dari istilah lulut yang memiliki makna jalinan, rangkaian, rasa senang, cinta, dan kasih sayang.
“Tumpek Krulut jika dicermati secara mendalam sesungguhnya menjadi sarana untuk memunculkan rasa saling asih, asah, dan asuh di antara sesama manusia melalui seni tetabuhan atau gambelan. Seni ini merupakan hasil karya cipta Hyang Widhi yang menghadirkan rasa tertarik, senang, dan terpesona dalam kehidupan,” jelasnya.
Lebih jauh dikatakan, secara tradisi Tumpek Krulut merupakan hari suci untuk mengupacarai alat-alat seni tetabuhan atau gambelan dengan memuja Ida Sang Hyang Iswara. Namun, pemaknaannya tidak berhenti pada aspek ritual semata.
“Inilah pemaknaan Tumpek Krulut, bahwa rasa-rasa yang ada dalam diri manusia mesti dimuliakan melalui upacara dan aksi nyata. Upacaranya dilakukan pada gambelan, sedangkan aksi nyatanya adalah menumbuhkan cinta kasih terhadap diri sendiri, sesama manusia, dan lingkungan. Dari sanalah akan lahir cinta kasih yang utama, yaitu bhakti kepada Sang Pencipta,” ujar Kadek Satria.
Ia menekankan bahwa cinta kasih tidak boleh dipersempit hanya pada hubungan laki-laki dan perempuan atau sekadar dorongan biologis semata.
“Cinta bukan hanya persoalan relasi personal atau libido. Lebih dari itu, cinta kasih adalah ungkapan kesadaran dan rasa syukur manusia atas kehidupan yang dianugerahkan oleh Tuhan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, Kadek Satria menjelaskan bahwa filosofi gambelan yang terdiri dari berbagai instrumen menjadi simbol kuat pemaknaan Tumpek Krulut. Setiap instrumen tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus menyatu dalam jalinan atau rangkaian (lulut) untuk menghasilkan keindahan.
“Penyatuan, ikatan, dan keterhubungan inilah yang melahirkan nilai seni dan keindahan. Demikian pula hubungan manusia dengan alam, lingkungan, dan sesama. Keterhubungan itulah yang akan memunculkan keindahan hidup. Inilah sesungguhnya aksi nyata dari pemaknaan Tumpek Krulut,” tegasnya.
Menurutnya, nilai cinta kasih dalam Tumpek Krulut mengajarkan cinta universal, bahwa seluruh makhluk adalah saudara.
“Konsep Vasudhaiva Kutumbakam, bahwa semua adalah saudara, menjadi landasan cinta kasih dalam Tumpek Krulut. Oleh karena itu, upaya pemerintah menguatkan hari suci ini dalam bentuk aksi nyata terhadap alam dan lingkungan adalah langkah yang sangat positif,” ujarnya.
Ia menilai penguatan makna hari suci melalui tindakan nyata akan memperkaya pemahaman umat bahwa ritual keagamaan tidak sekadar seremonial atau festival upacara, melainkan momentum pemuliaan hidup berbasis kesadaran cinta kasih sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
“Dalam tradisi Hindu, khususnya di Bali, Tumpek dipandang sebagai hari yang memiliki nilai puncak dalam perhitungan Panca Wara dan Sapta Wara. Tumpek Krulut menjadi landasan untuk memuliakan diri melalui cinta kasih atau tresna asih,” pungkas Satria. (Ketut Winata/balipost)









