Lahan Cabai Rawit Terkikis 50 persen Lebih. (BP/Yud)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Keberadaan lahan cabai di Kabupaten Buleleng kian mengkhawatirkan. Data Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, dari 1100 hektar lahan cabai di tahun 2022, kini tinggal tersisa hanya 520 hektar. Hal ini lantaran sejumlah petani beralih fungsi ke tanamanan yang lebih produktif dan menghasilkan.

Kabid Hortikultura Dinas Pertanian Buleleng, I Gede Subudi ditemui Rabu (22/11) mengatakan, berkurangnya luas lahan cabai ini sebagian besar terjadi di Kecamatan Gerokgak, seperti di Desa Sumberklampok, Sumberkima dan Pejarakan. Dengan kondisi itu, hal ini berpengaruh terhadap produktivitas komoditi cabai rawit di Buleleng. “Dengan sisa lahan yang ada saat ini, produksi cabai rawit di Buleleng mencapai 14.783 kwintal. Jumlah sejatinya cukup untuk pemenuhan masyarakat disini,”terang Subudi.

Baca juga:  Hasil Operasi Zebra Agung, Belasan Ribu Pelanggar Ditindak

Hanya saja saat ini, produktivitas cabai sebagian besar diserap oleh pengepul dan dijual ke wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Langkah ini diakibatkan petani lebih tergiur dengan harga yang ditawarkan oleh pengepul dari luar Buleleng. “ hasil produksinya diserahkan kepada pengepul lantaran harga yang ditawarkan lebih mahal bila dibandingkan dengan harga yang diberikan oleh Perumda Swatantra. Kalau Swatantra misalnya bisa beli Rp 30 ribu per kilo, sementara pengepul bisa mencapai Rp 35 ribu per kilo,”tandasnya.

Baca juga:  Hujan Deras, Jalan Penghubung Tambahan-Tegalalang Tergenang Air

Subudi menyebut berkurangnya luas lahan cabai ini terjadi lantaran petani beralih untuk menanam komoditi yang lebih irit air dan tidak membutuhkan ekstra perawatan. Seperti menanam kacang gude (undis), jagung dan kunyit. “Harga kacang undis sekarang mahal, di pasaran tembus di angka Rp 100 ribu per kilo. Makanya petani banyak beralih ke kacang undis. Ketimbang menanam cabai, harus rutin disiram dan dipupuk serta rentan terkena penyakit layu. Kami pun tidak bisa memaksa petani agar tetap menanam cabai,” terang Subudi.

Baca juga:  Diganti Rp 2 M Per Are, Pemilik Lahan Masih Tidak Setuju  

Untuk mengembalikan lahan yang hilang, pihaknya bersama BI Bali saat ini tengah mendistribusikan bantuan 100 ribu bibit cabai di empat kecamatan. Cabai-cabai itu diperkirakan bisa dipanen pada Januari 2024 mendatang. “Ada yang sudah ditanam sejak dua bulan yang lalu. Ada juga yang baru mau ditanam, tergantung kesiapan air di daerah masing-masing. Kalau kurang air takutnya bibitnya mati, nanti petani malah rugi karena mereka juga banyak mengeluarkan modal untuk pupuk,” tandasnya. (Nyoman Yudha/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *