IGK Manila. (BP/Eka)

Oleh IGK Manila

Perayaan hari raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1945 dan Ramadan 1444 H di Bali, sejauh yang mampu saya amati, dengan baik. Berbagai pihak dan media massa memuji prestasi sosial-kultural dan politik ini dan memandangnya bisa menjadi teladan tentang bagaimana toleransi dan kerukunan dikelola.

Saya menyebutnya prestasi sosial-kultural karena kesetiaan masyarakat pada akal-sehat dan keteguhan memegang pokok dari ajaran agama. Juga menjadi prestasi politik karena penyelenggara pemerintahan di Bali berhasil mengelola situasi sosial yang berbuah kedamaian dan kerukunan.

Meskipun disebut hari raya, Nyepi pada dasarnya berpusat pada laku kontemplasi dan introspeksi batin. Dari laku membatin tersebut diandaikan akan diraih kenikmatan ruhani, kesegaran perspektif diri, dan keteguhan menjalankan dharma.

Dari interaksi dan pembacaan yang mampu saya lakukan, Ramadhan pada dasarnya juga merupakan sarana kontemplasi dan introspeksi diri selama sebulan penuh bagi umat Islam. Saudara-saudara Muslim kita berusaha meingkatkan kuantitas dan kualitas amal-ibadah sesuai kemampuan masing-masing.

Baca juga:  Di Denpasar, 182 Ogoh-ogoh Ikuti Lomba

Kekuatiran tentang konflik, apalagi berujung kekerasan, pertama-tama berkemungkinan karena kita melihat fenomena secara dikotomis, kontras, atau oposisional. Misalnya, sepi dalam Nyepi dikontraskan dengan keramaian atau kemeriahan kultural dalam Ramadan. Cara berpikir yang demikian kemudian mudah membuat kita terjebak dalam prasangka, kecemasan atau bahkan prejudice.

Dalam toleransi agama atau kultural, sebaliknya, kita mesti memulai dari laku empatik, berusaha memahami dan merasakan apa yang dilakukan oleh saudara beda agama. Dari laku empatik ini selanjutnya bisa dibangun common-grounds, kesebangunan sudut pandang dan konsensus mengenai penyelenggaraan kegiatan kegiatan keagamaan di ranah publik.

Kedua, selain cara pandang oposisional, kekuatiran konfliktual muncul karena kebiasaan melihat fenomena dari sudut pandang masalah, bukan potensi sosial-kultural yang positif. Ini bisa diibaratkan sebagai kebiasaan untuk melihat bagian gelas yang kosong, bukan justru pada bagian yang ada isinya.

Baca juga:  Warisan Budaya Bali Arsitektur sebagai Identitas dan Kesejahteraan

Kebersamaan umat Hindu, Islam, dan lainnya di Bali sudah berlangsung ratusan tahun. Dalam masa kemerdekaan saja sudah hampir mencapai 78 tahun. Dengan masa yang demikian panjang, pola-pola relasional, konsensus, dan ragam kebiasaan kultural-toleran sudah pasti tumbuh dan berkembang. “Isi gelas” ini yang harus diperhatikan saksama, disyukuri dan dilanggengkan.

Bukan sebaliknya. Riak-riak yang muncul—kekosongan dalam gelas—yang justru dibesar-besarkan, maka itu akan menyuburkan fanatisme dan potensi kebencian. Kebaikan-kebaikan dalam ajaran agama dan praktik-praktik kultural baik, jika fanatisme mendapat tempat, akan terabaikan. Ia akan menjadi virus yang menular dari satu orang kepada orang lainnya, yang merusak toleransi dan kerukunan.

Baca juga:  Nyepi, Tahun Baru Caka 1939

Ketika Nyepi tahun ini bertemakan “Melalui Dharma Agama dan Dharma Negara Kita Sukseskan Pesta Demokrasi Indonesia” saya bersyukur karena itu menegaskan posisi yang sebaiknya diambil umat Hindu. Menjalankan dan mengelola demokrasi dengan baik adalah dharma agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam rangka mewujudkan dharma tersebut, harapan saya terhadap warga Hindu Bali, marilah kita berlaku cerdas dan mengutamakan persatuan dan kesatuan di atas kepentingan politik sesaat. Kesucian dan kekuatan kualitas batin yang sudah dicapai dalam Nyepi kali ini hendaklah dipertahankan sehingga kita tetap bisa menjaga Bali sebagai Bali, tanah tumpah darah di mana jutaan rakyat hidup dan mencari penghidupan.

Penulis, Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) dan Anggota merangkap Sekretaris Majelis Tinggi Partai Nasdem

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *