Aktivitas pengangkutan peti kemas di Pelabuhan Benoa. (BP/dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Keterpurukan ekonomi Bali saat ini seharusnya menjadi pecut untuk tidak lagi mengandalkan yang tidak pasti, yaitu pariwisata. Saatnya ekonomi Bali bangkit dengan beralih ke sektor lain agar bisa survive.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana, Prof Wayan Ramantha, belum lama ini mengatakan, sektor yang bisa dikembangkan Bali adalah perdagangan, baik itu untuk mengisi pasar dalam negeri juga pasar ekspor. Untuk jenisnya, ia mengatakan kerajinan terutama terkait kebutuhan pokok masyarakat nasional maupun global masih berpeluang besar.

Baca juga:  Gedung Sinar Mas, Jaksa Sebut Sudah Eksekusi Tapi Papan Sita Masih Terpasang

Misalnya ekspor perikanan atau pakaian masih dibutuhkan dunia. Sehingga potensi ini diharapkan agar lebih diintensifkan.

Kepala BPS Bali Hanif Yahya, Selasa (4/5), menyebut ekspor Bali pada Maret 2021 mencapai USD 47,60 juta. Ekspor kumulatif dari Januari-Maret 2021, sebesar USD 122,63 juta.

Negara tujuan ekspor Bali yaitu Amerika Serikat mencapai USD 16,08 juta, naik 39,52% dibandingkan Februari 2021, Australia USD 4,60 juta, naik 19,38% (mtm), China sebesar USD 3,68 juta, turun 36,75% (mtm), Perancis USE 2,87 juta, naik 41,86% (mtm), Jepang USD 2,82 juta,bnaik 55, 99% (mtm).

Baca juga:  Erupsi Gunung Agung Magmatik, Ini Penjelasan PVMBG

Lima besar komoditas ekspor terbesar pada Maret 2021 yaitu ikan dan udang sebesar USD 13,47 juta, naik 0, 31% (mtm), pakaian jadi bukan rajutan USD 5,68 juta, naik 15,32% (mtm), perhiasaan atau permata USD 5,04 juta, naik 38,60%, kayu dan barang dari kayu USD 3,49 juta,naik 38,76% (mtm), perabot penerangan rumah USD 2,63 juta, naik 36,28% (mtm).

Bali, lanjut Ramantha, harus menggali sektor-sektor yang tidak terkait langsung dengan keramaian. Karena di tengah pandemi, upaya menjaga kesehatan dengan menghindari keramaian menjadi kunci yang utama memutus penyebaran virus.

Baca juga:  Koperasi Besar Berorientasi Ekspor

Kondisi ini harus dihadapi dan kelola dengan bijak, yang intinya adalah harus melakukan sesuatu. “Harus ada terobosan-terobosan untuk bisa survive. Memang tidak mudah dan tidak bisa cepat lepas dari pariwisata, tapi untuk bertahan saat ini harus dilakukan. Nantinya pariwisata tetap akan menjadi sektor unggulan dalam pertumbuhan ekonomi Bali,” ujarnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

Captcha *