Ketut Agus Sutapa. (BP/dok)

BANGLI, BALIPOST.com – Sudah setahun lebih, alat peringatan dini atau early warning system (EWS) yang dipasang di Desa Abang Batudinding, Kintamani tak bisa berfungsi karena rusak. Alat tersebut dipasang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangli untuk mengurangi risiko bencana saat musim hujan seperti sekarang.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bangli Ketut Agus Sutapa dikonfirmasi Jumat (8/1) mengatakan total ada empat alat EWS yang dipasang di wilayah Desa Abang Batudinding sejak 2016. Sejak 2019, alat tersebut tak lagi bisa berfungsi dengan normal karena rusak.

Baca juga:  Akibat Gempa, Ruang Kelas di Dua Sekolah di Susut Hancur Bagian Atapnya

Agus mengaku pihaknya tidak bisa memperbaiki alat tersebut karena di Bali tidak punya teknisinya. Jelas Agus, alat EWS yang terpasang di Desa Abang Batudinding merupakan bantuan BPNP dan dirancang oleh Universitas Gajah Mada (UGM).

Di Bali, hanya dua kabupaten yang mendapat bantuan alat tersebut, yakni Bangli dan Karangasem sebagai pilot project. Sayangnya, pemberian bantuan alat itu tidak dibarengi dengan ilmu mengenai teknis perbaikannya. “Sehingga ketika ada gangguan di alat tersebut, kami tidak bisa memperbaikinya. Kalau saja teknisinya itu ada di Bali sebenarnya fungsi alat itu sangat bagus,” jelasnya.

Baca juga:  Dua Pos Pengungsian di Bangli Kembali Kedatangan Pengungsi

Lebih lanjut disampaikan Agus, pada akhir 2020, BNPB sempat datang ke Bangli untuk memastikan alat tersebut. Dari BPBD Bangli sudah menjelaskan kondisi dan kendala yang dihadapi.

Mengenai bagaimana tindaklanjut BNPB, Agus mengatakan pihaknya masih menunggu. “Karena kan baru di akhir 2020 BNPB datang. Apakah nanti dari BNPB yang memperbaiki dengan teknisinya, kami hanya bisa menunggu mudah-mudahan ada kabar bagus,” kata Agus.

Baca juga:  Tangani Kebencanaan, BPBD Bangli Masih Kekurangan PL

Dengan belum bisa berfungsinya EWS tersebut, pihaknya berharap masyarakat khususnya di Desa Abang Batudinding yang wilayahnya rawan bencana alam, agar waspada, sigap dan mampu mengenali ancaman bencana. Dengan kembali ke pola lama yakni memanfaatkan sistem peringatan dini tradisional. (Dayu Swasrina/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.