Ilustrasi. (BP/istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Bali baru saja merilis angka kemiskinan di Bali pada Maret 2020, dimana pada bulan itu merupakan bulan pertama kasus terkonfirmasi Covid-19 diumumkan. Angka kemiskinan Maret di Bali meningkat 0,17 persen menjadi 3,78 persen atau 165,19 ribu. Penghitungan angka kemiskinan akan dilakukan pada September nanti.

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan SDM Unud Dr. I Gusti Wayan Murjana Yasa, SE., M.Si., mengatakan, September nanti angka kemiskinan diprediksi meningkat tiga kali lipat sekitar 5 persen peningkatannya.

Hal itu dikarenakan semakin banyaknya orang yang di-PHK, dirumahkan dan mem-PHK diri sendir, tidak memiliki pekerjaan pasti. Hal ini karena Bali dominan bergantung pada pariwisata yang notabene pariwisata yang paling hebat terkena pukulan Covid-19.

Baca juga:  Lampaui Capaian Pusat, Pemkab Jembrana Raih Penghargaan BPS

Selain itu akan muncul fenomena baru dimana angka kemiskinan lebih banyak munculnya di desa tapi dengan adanya Covid-19 ini yang terkena dampak adalah orang – orang yang bekerja di sektor jasa dan tinggal di perkotaan. “Sehingga ada kemungkinan kemiskinan sektor perkotaan akan lebih tinggi dari pedesaan,” imbuhnya Jumat (17/7).

Fenomena baru ini sudah terlihat pada rilis resmi statistik yang mana peningkatan angka kemiskinan di perkotaan lebih tinggi dari angka kemiskinan di pedesaan. Angka kemiskinan di perkotaan mengalami penurunan dari 4,86 persen pada September 2019 menjadi 4,78 persen pada Maret 2020. Sedangkan angka kemiskinan di perkotaan meningkat dari 3,04 persen menjadi 3,33 persen.

Baca juga:  Belajar Bicara dengan Data

Kemiskinan yang akan muncul nantinya di perkotaan yaitu, penduduk yang memang miskin dan penduduk miskin baru yang disebabkan karena PHK, dirumahkan, memPHK diri, tidak punya pekerjaan. “Itu yang rentan menambah jumlah penduduk miskin nanti,” jelasnya.

Namun ia berharap dengan munculnya kreativitas – kreativitas anak muda, diharapkan mampu membuat kondisi ekonomi penduduk bertahan. “Tapi memang akan banyak sekali yang akan terdegradasi karena itu,” ujarnya.

Baca juga:  Adat dan Budaya sebagai Kebutuhan Primer

Penyebab lainnya adalah ketika Covid-19 banyak aktivitas – aktivitas yang tertunda, salah satunya distribusi logistic terhambat karena transportasi tidak selancar dulu, menyebabkan produk – produk sulit didapatkan sehingga harganya menjadi naik. “Jadi ada dua faktor, satu tertekan karena faktor pekerjaaan dan kenaikan harga produk tadi. Dua ini yang menambah jumlah kemiskinan,” ungkapnya.

Memasuki era adaptasi kebiasaan baru, merupakan peluang untuk menekan meroketnya jumlah kemiskinan di Bali. Karena orang beraktivitas seperti biasa namun dengan kebiasaan baru, penerapan protokol kesehatan.(Citta Maya/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.