
DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Denpasar mencatat inflasi tahunan atau year on year (yoy) pada Februari 2026 mencapai 4,33 persen. Angka ini mengalami kenaikan dibanding inflasi tahunan pada Januari 2025 sebesar 3,6 persen.
Selain beberapa jenis komoditi pokok, tarif listrik hingga kontrak rumah masih berpengaruh terhadap inflasi tahunan pada Februari 2026.
Berdasarkan data BPS Kota Denpasar komoditas yang dominan memberikan andil atau sumbangan inflasi tahunan pada Februari 2026, antara lain tarif listrik, emas perhiasan, sewa rumah, daging ayam ras, biaya pendidikan SMA, dan Sigaret Putih Mesin (SPM). Selain itu ada pula komoditas beras, air kemasan, biaya bimbingan belajar, kontrak rumah, upah asisten rumah tangga, cabai rawit, pembelian mobil, tongkol diawetkan, kopi bubuk, ongkos binatu/laundry, angkutan udara, pepaya, ikan kembung, dan pepes.
Sementara itu secara bulanan Denpasar juga mencatat inflasi 0,57 persen yang dipengaruhi beberapa komoditas. Di antaranya cabai rawit, emas perhiasan, daging ayam ras, tongkol diawetkan, pepes, pembelian mobil, cabai merah, martabak, kue basah, labu siam/jipang, sewa rumah, ikan kembung, semangka, celana panjang jeans pria, mangga, udang basah, donat, ikan tongkol, kacang panjang, dan ikan teri.
Kabag Perekonomian Setda Kota Denpasar I Putu Agus Jayadi, S. IP., M. AP saat dikonfirmasi, Senin (9/3) mengatakan, beberapa komoditi pokok nampak mengalami kenaikan sehingga memberi andil terhadap inflasi. Seperti cabai rawit yang kuat dipengaruhi cuaca dimana beberapa bulan terakhir terjadi hujan di seluruh Bali. Kemudian untuk daging ayam kata dia, tengah ada kelangkaan stok yang disebabnya keterbatasan day old chicken (doc).
Sementara itu terkait dengan sewa rumah yang juga memberi andil dalam inflasi, Agus Jayadi mengatakan, kenaikan harga sewa rumah dipengaruhi oleh 2 faktor. Pertama karena permintaan tinggi akibat urbanisasi dan pariwisata meningkat, sehingga harga rumah dan sewa rumah cenderung naik. Kedua belum adanya pengaturan hukum di pusat terhadap harga sewa rumah dan tidak ada pembatasan harga sewa di kebijakan daerah.
Dalam upaya menekan laju inflasi, kata dia, beberapa upaya dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar. Diantaranya, penguatan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar dalam memantau pergerakan harga sembako di pasar tradisional, mengidentifikasi potensi tekanan harga sejak dini dan menyiapkan langkah cepat jika terjadi gejolak. Selain itu, juga menggelar operasi pasar dan pasar murah di kelurahan dan desa.
Terakhir yakni menjaga ketersediaan stok dan kelancaran distribusi. “Dalam hal ini Pemkot berkoordinasi dengan BI Perwakilan Bali, Perum Bulog Kanwil Bali, Perumda Pasar, Dinas Perindag Kota Denpasar, Dinas Pertanian Kota Denpasar, Distributor dan Pelaku Usaha untuk memastikan stok sembako cukup, distribusi lancar serta tidak ada hambatan logistik, terutama setelah libur panjang dan saat permintaan melemah di awal tahun (faktor musiman Januari), mari kita jaga stabilitas harga” terang Agus Jayadi.
Sementara itu terkait tarif listrik, Ketua Tim Statistik Harga BPS Kota Denpasar Luh Putu Novita Sari sebelummya menjelaskan, untuk tarif listrik sendiri pada dasarnya tidak ada kenaikan. Inflasi yang disumbangkan tarif listrik pada awal tahun ini dipengaruhi oleh diskon 50 persen yang diberikan PLN kepada pelanggan dengan daya di bawah 2.200 VA.
Novita menjelaskan, inflasi tahunan menghitung perubahan harga Januari tahun ini dibandingkan dengan Januari tahun lalu. “Januari dan Februari tahun lalu pemerintah melalui PLN memberikan diskon tarif listrik sebesar 50 persen, sehingga saat ini secara yoy terlihat mengalami kenaikan,” katanya.
Demikian dia mengatakan, Hingga Februari nanti tarif listrik akan memberikan andil terhadap inflasi di Denpasar. Hal tersebut karena diskon tarif berlangsung dari Januari hingga Februari pada 2025 lalu. (Widiastuti/balipost)









