Kepala bidang sosial Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, Ray Misno menyerahkan sembako pada warga. (BP/bit)

TABANAN, BALIPOST.com – Ada yang berbeda dalam peringatan cikal bakal lahirnya Monumen Markas Besar Oemoem (MBO) DPRI Soenda Ketjil Munduk Malang, Desa Dalang, kecamatan Selemadeg Timur, Tabanan tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya diperingati dengan upacara yang dikemas sederhana, di tengah pandemi COVID-19, peringatan diarahkan ke kegiatan pembagian sembako.

Sejumlah warga yang terdampak di lingkungan sekitar monumen, diberikan sembako diserahkan oleh perwakilan dari Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, Senin (1/6). Ada sebanyak 80 orang warga terdampak yang diberikan bantuan paket sembako dan turut didampingi pula oleh Perbekel Dalang, Wayan Kartama.

Kepala bidang sosial Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali, Ray Misno menjelaskan pemberian paket sembako ini untuk membantu meringankan beban ekonomi warga masyarakat Dalang yang terkena dampak COVID-19. Meski tahun ini untuk upacara peringatan cikal bakal lahirnya MBO DPRI Soenda Ketjil tidak bisa dilakukan, namun dengan kegiatan kecil ini juga tidak mengurangi makna dari peringatan tersebut.

“Saya pribadi melihat lebih bermakna, meski pelaksanaan upacara juga sangat penting bagi kita untuk mengingatkan, namun saat ini lebih mengena karena masyarakat saat ini kondisi ekonominya terpuruk, paling tidak sedikit mambantu apalagi sudah banyak organisasi dan individu yang melakukan hal yang sama,” ucapnya.

Sementara itu Perbekel Dalang, Wayan Kartama menyampaikan terima kasih atas perhatian Yayasan Kebaktian Proklamasi (YKP) Bali pada warganya yang memang sangat membutuhkan bantuan. “Kami sangat berterima kasih atas bantuan paket sembako, semoga bisa bermanfaat bagi warga kami yang memang sangat membutuhkan,” katanya.

Untuk diketahui, Monumen Markas Besar Oemoem (MBO) DPRI Soenda Ketjil memiliki sejarah luar biasa. Markas ini mampu menyatukan seluruh tentara dan pejuang di Bali dalam satu komando, mulai Negara, Tabanan hingga Buleleng dibawah pucuk pimpinan Gusti Ngurah Rai.

Setelah MBO berdiri, Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya membentuk laskar rakyat. Mereka bertugas membantu perjuangan pasukan tentara. Di markas ini, komando perjuangan melawan Belanda dipusatkan.

Dari MBO, Gusti Ngurah Rai menyatukan komando perjuangan. Pasukannya sempat menghindari pantauan Belanda dengan long march dari MBO menuju lereng Besakih, Karangasem. Namun, akhirnya kembali lagi ke daerah Bengkelanyar, Penebel. (Puspawati/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.