Ida Bagus Danendra saat menunjukkan palinggih yang sudah lama terkubur sejak 1963. (BP/Gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pengempon Pura Puseh Katyagan, Desa Kamasan, Gelgel, akhirnya berhasil menemukan Palinggih Tumbal/Bedugul di bekas alur Sungai Unda Barat, Tempek Pemedilan, Subak Pegatepan. Palinggih ini telah lama dicari pengempon pura setempat, setelah beberapa kali memperoleh petunjuk niskala. Pencarian titik palinggih ini berkaitan dengan rencana pengempon pura untuk menyusun purana menjelang karya agung di pura tersebut. Bagaimana proses pencariannya hingga akhirnya ditemukan?

Klian Pura Puseh Katyagan, Ida Bagus Danendra, saat ditemui di lokasi Selasa (26/5), menuturkan perjuangannya dari proses pencarian hingga ditemukan. Tidak mudah menemukannya. Karena sudah lama terkubur pasir di alur sungai, persis di bawah tebing setinggi sekitar tujuh meter. Palinggih ini sempat tertimbun sejak tahun 1963 ketika terjadi erupsi Gunung Agung. “Disini dulu alur sungai. Disebelahnya ada palinggih. Sementara di hilir ada aungan (terowongan), dikenal sangat angker. Palinggih ini erat kaitannya dengan Pura Puseh Katyagan,” kata mantan Perbekel Kamasan ini.

Pihaknya harus melibatkan cukup banyak pekerja untuk melakukan penggalian. Proses itu dilakukan sejak 26 April lalu hingga sedalam dua meter lebih. Bahkan, beberapa kali gagal menemukan palinggih itu, karena titik galinya tidak tepat. Namun, setelah dicoba beberapa kali, akhirnya pekerja itu menemukan bagian atas palinggih, sejak H-2 sebelum perayaan Idul Fitri. “Tepat saat Tilem, palinggihnya baru ditemukan. Saya lega. Berarti cerita tetua maupun petunjuk niskala yang kami dapatkan tentang keberadaan palinggih ini, benar adanya,” jelas Danendra.

Dia belum bisa menjelaskan bagaimana kaitan sejarahnya, antara palinggih ini dengan Pura Puseh Katyagan. Ia mengaku hanya mendapatkan petunjuk ketika ingin menyusun purana pura, harus menemukan lebih dulu, keberadaan lima palinggih tua yang berkaitan dengan Pura Puseh Katyagan. Antara lain, selain Palinggih Bedugul ini, sisanya ada Palinggih Pemajangan, Palinggih Gunung Batur/Lebah, Palinggih Surya, Akasa, Langit dan Bulan, terakhir Palinggih Pilah/Batu Lapak. Ini belum ditemukan dan juga sedang dilakukan penggalian.

Rencananya Pura Puseh Katyagan melaksanakan karya agung pada 7 Oktober nanti. Tetapi, karena terjadi pandemi Covid-19, rencana karya agungnya juga terpaksa diundur menjadi 31 Desember 2021. Sehingga, pihaknya terus berupaya merampungkan purananya lebih dulu dengan melakukan penggalian terhadap keberadaan lima palinggih yang berkaitan dengan pura dang kahyangan ini. “Setelah palinggihnya ditemukan, selanjutnya akan kami tata dan ngaturang sesaji. Camat dan dinas terkait juga sudah kami informasikan. Barangkali ada pautan sejarah yang perlu digali bersama,” tegasnya.

Camat Klungkung Komang Gde Wisnuadi dan Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Klungkung, juga sempat turun ke lokasi, Selasa (26/5). Kabid Cagar Budaya Wayan Sumerta, didampingi Kasi Pendataan dan Regristrasi Cagar Budaya Made Gede Sarjana, mengatakan akan bersurat kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali berkaitan dengan upaya pelestariannya dan Balai Arkeologi Bali berkaitan dengan proses penelitian lebih lanjut. Dia berharap upaya ini dapat membantu warga sekitar maupun pengempon pura untuk mengungkap lebih jauh berkaitan dengan keberadaan pelinggih ini. (Bagiarta/Balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.