Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha (kiri) mengamati karya seni lukisan saat pameran seni rupa Utopia di Ubud, Gianyar, Bali, Kamis (25/9/2025). (BP/Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, pekan lalu mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang saat ini dijaga dan dilestarikan oleh pemerintah.

Wamen yang berlatar belakang musisi itu meminta masyarakat menjaga cagar budaya yang terdapat di Bali.

“Tantangan baru adalah climate change atau perubahan Iklim,” ucap Giring menggelar rapat kerja dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah Bali Nusra.

Wamen menambahkan semua pihak mesti menjaga peninggalan bersejarah ini, khususnya dalam spirit Tri Hita Karana.

Baca juga:  Minim, Guide Pahami Sejarah Cagar Budaya

Pada kesempatan itu, Wamen juga menerima penjelasan ada peninggalan sarkofagus yang mana terdapat 33 sarkofagus yang merupakan kuburan dari batu yang hanya diperuntukkan orang tertentu, seperti kepala suku.

Cagar budaya itu mesti dijaga dan sampai saat ini masih dijaga dengan rapi. Apalagi yang berkaitan dengan sarkofagus ini, disebut sudah ada sebelum Hindu masuk Bali.

Pascabanjir bandang yang menerjang beberapa wilayah di Bali, memang disebut sejumlah pura besar dan bersejarah ikut terimbas banjir bandang.

Baca juga:  Buka Porprov Bali XVI 2025, Wagub Giri Prasta Dorong Sportivitas dan Peningkatan Sarana Olahraga

Hal itu juga disampaikan Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna saat berkunjung ke salah satu pengungsian korban banjir di Banjar Kesambi, Denpasar Timur. Kerusakan pura itu sudah disampaikan pada senator asal Bali, I.B. Rai Dharma Wijaya Mantra.

Wamen juga telah meminta BPK untuk menginventarisasi cagar budaya yang terancam dan terdampak bencana.

Giring minta agar mencatat dan menganalisa cagar budaya yang rawan banjir, rawan gempa atau cagar budaya yang ada pohon besarnya dan rawan tertimpa.

Baca juga:  Masih Panjang, Proses Pengusulan Rumah Ibunda Bung Karno Jadi Cagar Budaya

Wamenbud Giring menegaskan, pascabencana melanda Bali, tim Kementerian Kebudayaan sudah langsung bergerak melakukan pencatatan. (Miasa/balipost)

BAGIKAN